Senin, 23 Mei 2016

Clean Your Heart



            Saat ini aku sedang merakit perahuku untuk mengantarkanku ke pualu impian dan cita-citaku. Aku merasa bahwa sebenarnya aku ini punya bakat menulis. Tapi karna faktor yang seringkali menghampiri, alhasil kemampuanku ini tak terasah dengan baik. Dan kali ini aku mulai menggiatkan diri lagi untuk menulis setiap hari. Mengeluarkan sumbatan-sumbatan di otak yang mungkin saja bisa menggali pikiran baru yang lebih baru dan segar. Bila kita tau fakta bahwa otak kita ini adalah lebih hebat dan tak tertandingi dengan tekhnologi canggih manapun, tentunya kita akan selalu optimis dalam melakukan banyak hal yang kita inginkan. Bayangkan saja, setiap hal yang kita inginkan bisa tercapai karena kita dianugerahi Tuhan satu benda yang sangat hebat, yaitu otak.
            Oke kali ini aku mau nulis tentang usahaku membersihkan hati. Aku masih agak bingung sama salah satu hadis yang katanya orang yang punya rasa sombong sebesar biji sawi nggak bakal masuk surga. Hm.. ini mustahil kayaknya. Bayangin aja, berpuluh-puluh tahun manusia hidup masa iya sebagai manusia biasa yang didadanya masih ada sifat baik dan buruk nggak pernah ngerasain sehalus-halusnya sombong. Wong anak kecil aja bisa sombong kok, bisa iri-irian kok. Nah aku ya bingung banget sama hadis yang satu ini, biji sawi kan kalo nggak salah kecil banget yak. Nah kalo gitu, bisa jadi semua manusia nggak masuk surga dong karena menurutku di dalam setiap hidup orang pasti pernah walaupun 1 kali dalam hidupnya yang namanya ngerasain sombong itu, kecuali Nabi Saw dan para sahabatnya.
            Hm.. tapi biarpun bingung, ya aku coba untuk selalu bersihin hatiku. Makanya kalo ke perpus kota atau perpus manapun aku lebih suka nyari buku yang berhubungan dengan pembersihan hati. Karena jujur loh, hati itu ibarat taneman kalo nggak disiram ya layu dan akhirnya mati. Makanya aku seneng kalo baca buku-buku yang berkaitan dengan pembersihan hati, karena buku itu ibarat air yag menyirami hatiku yang gersang hehe. Tapi serius loh, jaga hati itu susahnya minta ampun. Jaga hati yang aku maksud di sini itu, hati dijaga jangan sampe ngerasain yang namanya ujub, pamer, ria, dengki, sombong, takabur, dan penyakit-penyakit hati lainnya deh. Susah loh, dan ini musti banyak latihan dan suplemen. Aku jadiin buku dan ceramahnya Aa Gym sebagai suplemen. Eits kenapa harus Aa Gym? karena beliau kalo ceramah ngena banget dan sering banget yang sesuai sama aku. Pokoknya bikin adem-adem ayem deh hati ini kalo denger ceramahnya si Aa teh. Biarpun mungkin banyak yang gak suka sama Aa Gym gara-gara kawin lagi, tapi nggak liat ke arah situnya. Aku tetep ngefans dan kagum sama beliau. Karena beliau bisa mengubah pandanganku kalo setiap sesuatu itu datengnya dari Allah dan hanya kembali pada Allah. Termasuk masalah, masalah sebesar apapun maka kembalikan saja pada Allah. Karena Dia selalu bisa memberikan solusi dari setiap permasalah hambanya. Aa Gym juga orang yang menyadarkan akan artinya bersyukur sampai kepada hal yang terkecil. Ceramah beliau nggak muluk-muluk, sesuai sama kejadian sehari-hari aja. Jadi mudah diterima dan masuk ke hati. Semoga Allah merahmati beliau ini yang sudah menyadarkan banyak dan memberikan kesehatan sampai wafatnya supaya bisa selalu bermanfaat ilmunya bagi umat.
            Oke, satu kata yang aku ambil dari buku yang kubaca. Eh bukan kata deg tapi kalimat hehe. Jadi jangan sampai dunia ini membuat kita senang ataupun marah berlebihan. Aku selalu inget kata-kata ini ketika aku mulai sebel atau marah sama temenku. Dan hasilnya, hatiku seketika bisa netral kembali dan otomatis sabar serta menyerahkan semuanya pada Allah. Sebetulnya hidup ini enak, kalau kita senantiasa bersyukur atas semua yang Allah berikan ke kita. Kita nggak akan pernah dengki, iri ataupun tidak suka pada orang lain bila kita menyadari hal ini. dan menurutku, orang yang hatinya bersih secara otomatis fisiknya juga sehat. Karena ketika hati tenang tanpa penyakit hati otomatis tubuh akan senantiasa rileks dan tidak tegang. Karena kalau tubuh tegang, maka pembuluh darah kitapun ikut berpengaruh dalam mengalirkan darah pembuluh darah akan jadi menyempit dan hal itu pasti akan mempengaruhi jumlah darah yang dialirkan ke seluruh tubuh kita. Akhirnya tubuh kita kekurangan asupan darah baru, yang mana darah itu salah satu unsur yang paling penting dalam kesehatan kita. Maka dengan berkurangnya asupan darah segar, maka berpengaruh juga pada kesehatan kita secara menyeluruh.
            Ketika temen kita dapet rezeki ataupun kebaikan dari Allah kita juga gaboleh tuh yang namanya ga suka. Kita musti ikut seneng kalo temen kita seneng, buka sebaliknya ya. Karena rezeki itu Allah yang ngatur, masa iya kita mau nggak seneng atas hasil keputusan Allah. Yakin deh kita pasti juga dapet rezeki dari jalan lain yang Allah kehendaki untuk kita. Burung aja dapet rezeki kalau dia mau keluar cari makan, masa iya kita nggak? Allah Maha Adil, jadi teang aja. Yang penting mah deket sama Allah aja maka akan terjamin tuh hidup sejahtera dunia.
            Hm tuh kan besar banget dampaknya kalo kita nggak suka sama orang atau punya penyakit hati. Makanya mulai dari sekarang, ayo latih dirimu untuk membersihkan hati dan senantiasa minta sama Allah supaya dianugerahi hati yang bersih dan lembut. Jangan muah terpengruh oleh keadaan dunia yang bisa bikin kita marah apalagi sebel. Bawa santai aja semuanya dan kembalikan pada Allah, yakin deh pasti akan jadi tenang dan hilang beban karena udah diserahin sama yang Maha Terpercaya. Alhasil, masalah selesai hati tenang tubuh sehat dan kita akan bahagia. \o/

Takdir Allah




Mengenai takdir Allah,  Allah menciptakan seluruhnya pasti ada takdirnya. Termasuk menciptakan kita para  manusia. Dan seluruh takdir Allah itu baik. Termasuk keberadaan kita saat ini di sini, sudah ditetapkan oleh Allah. Bahkan ilmu kalam aliran ... menganggap bahwa setiap yang kita lakukan itu sudah tercatat di lauf mahfudz. Tapi apakah orang yang saat ini ada di jalan kesesatan itu berarti Allah memberikan takdir yang buruk kepada mereka. Ada lagi aliran ilmu kalam yang lain, bahwa perbuatan manusia itu dihasilkan dari perbuatan Allah dan kehendak dari manusia itu sendiri. Jadi dapat dikatakan bahwa orang yang saat ini ada di jalan kesesatan dapat mengubah keadaan mereka ketika mereka mengubah diri mereka sendiri. Jadi ketika orang itu punya kemauan untuk berubah dari posisinya yang saat ini tidak baik menjadi kepada posisi yang baik, maka Allah pasti akan membukakan jalan untuknya. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa takdir dapat diubah oleh doa. Nah berbicara mengenai takdir dan doa ini, di sejarah islam ada salah satu kisah mengenai ini yang ditujukan kepada slah satu sahabat rasul yaitu umar bin khattab. Umar bin khattab adalah orang yang kuat(badannya kuat dan sifatnya bengis) pada zamannya. Sebelum masuk Islam ia adalah orang yang sangat bengis, ia tidak pernah bas-basi. Ketika dia tidak menyukai seseorang maka dia akan langsung mengacungkan pedangnya dan menebas leher siapapun yang tidak ia sukai. Dan ketika itu ia juga pernah mengubur putrinya hidup-hidup karena malu mempunyai anak perempuan. Nah ketika kedatangan Islam, maka orang kafir quraisy yg tadinya menyembah berhala, sekarang sdh masuk Islam dan meninggakan itu semua. Umar bin khattab pun merasa tdk suka dgn adanya hal ini. ia pun seketika manjadi benci dan sangat menentang Islam, dan ia juga sangat membenci pada orang yang membawa ajaranIslam tersebut. Siapa itu? Ya dia adalah rasulullah Saw. Dan seketika itu dengan sangat tergesa-gesa ia berjalan sambil membawa pedang. Tujuannya adalah ke rumah rasulullah untuk membunuh rasulullah dgn pedangnya. Kemudia ditengah perjalanan ia bertemu dgn seorang penduduk yang mana penduduk tersebut menanyakan akan kemaankah umar. Lalu umar pun menjelaskan maksud tjuannya. Tapi penduduk tsb memberitahu umar bahwasanya adiknya umar sendiri yg bernama fatimah telah masuk islam. Hal ini semakin menambah marah Umar. Dan akhirnya ia tidak jadi pergi ke rumah rasulullah, melainkan dia pergi ke rumah Fatimah adiknya.sesampaiya di rumah fatimah, ternayat adiknya itu sedang membaca al-quran bersama suaminya. Seketika itu juga umar langsung mendobrak pintu adiknya dan memukul adiknya hingga berdarah. Dan ketika adiknya sudah berlumuran darah, ia mengatakan pada umar, “apakah aku disiksa untuk disuruh meninggalkan agama yang telah kupilih? Sebenarnya agama kita sama, Tuhan kita sama, Allah al-haq Allah Tuhan kita.” Seketika itu pula umar tersentak dan merasa iba pada adiknya ia teringat masa-masa kebersamaan dengan adiknya. Samapai akhirnya umar penaaran dengan apa yang dibaca adiknya, dan iapun menyuruh adiknya untuk membacakannya. Ketika itu yg di bc adalah surat thoha ayat 1 sampai 14. Dan ketika itulah hidayah datang kepada Umar. Umaar yang mengerti tentang syair ketika itu menyadari bahwa yang baru saja dibacakan oleh adiknya bukan buatan manusia, melainkan buatan Tuhan. Dan ketika itu umar langsung menuju rumah rasulullah dan mengatakan dihadapan rasul; langsung, kalimat syahadat. Dan sejak saat itu umar masuk islam, dan ia berada di barisan paling depan dalam membela islamdan melindungi rasul dari para kaum kafir quraisy waktu itu. Sebenarnya kejadian ini, yakni berkat doa rasul, yg menginginkan satu diantara dua orang yg amat berpengaruh bagi umat saat itu untuk bisa mendapatkan hidayah dan masuk islam. Dua orang tsb adlah abu jahl dan umar bin khattab. Maka dengan ini berarti doa rasul dikabulkan. Dan dari cerita ini kita bisa mengambil hikmah, bahwasanya kita bisa memohon doa untuk keluarga kita atau teman-teman kita supaya ditunjukkan jalan yang benar. Kembali lagi mengenai cara dakwah kita, bila kita melihat suatu kemungkaran maka cegahlah dengan tanganmu bila tidak dengan lisanmu atau bila tdk bisa juga maka dengan hatimu. Tapi yang terakhir ini adalah selemah-lemahnya iman.
            Pasti ada sesuatu dibalik semua yang menimpa kita, pandangan manusia itu relatif. Bisa jadi yang kita anggap paling buruk untuk kita tapi itulah yang paling baik menurut Allah. Seperti ceritanya aa gym, yang sering beliau utarakan cobaan atau ujian bagi seseorang atau hal buruk yang menimpa seseorang janganlah dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Tapi kita lihat, perbedaan dari orang yang terken musibah tsb. Apakah setelah diberikan musibah, org tersebut tambah baik? Solatnya jadi rajin? Puasanya jadi rajin? Tahajudnya, dhuhanya? Bila musibah tsb menjadikan seorang makhluk menjadi semakin dekat dengan Allah maka itu merupakan suatu karunia dan kasih sayang Allah kpd hambanya. Allah tidak mau hamba tersebut berjalan ke arah yang lebih salah. Misalnya kamu kehilangan hp, hal tersebut jangan dipandang sebagai hal yang seutuhnya buruk. Tapi lihat sisi laindari hal it. Bisa saja dengan hilangnya handphone tersebut, Allah ingin kita tidak berhubungan lagi dengan orang-orang yang salah. Kan misalnya ada tuh temen-temen masa lalau kita yang ngga baik buat kita. Dan untuk menjauhkan kita dari org tsb, maka Allah ambil handphone kita dengan cara ndilalahnya dicuri orang.



Kamis, 19 Mei 2016

Di Dunia Keadaan Apapun Tidak Pernah Sempurna


            Di dunia keadaan apapun tidak pernah sempurna. Semua adalah relatif. Ada orang yang mempunyai pekerjaan dan selalu sibuk sampai tidak punya waktu untuk dirinya sendiri dan keluarganya  justru iri terhadap orang yang hidup dikampung bisa bercengkrama dengan keluarga setiap hari. Nah begitupun sebaliknya, orang kampung yang memiliki kehidupan pas-pasan tentunya menganggap kehidupan kota dengan pegawai bergaji besar adalah kehidupan yang sempurna. Yakinlah semua itu relatif dan tidak ada yang benar-benar sempurna bahagia. Karna kebahagiaan sempurna hanya ada di surganya Allah Swt.
            Kunci dari setiap kebahagiaan itu simple. Yakni dengan selalu bersyukur kepada Allah Swt. Atas segala yang telah Dia berikan kepada kita saat ini. Baik itu saat ini Allah memberi kita keadaan yang cukup ataupun lebih. Karena bahagia di dunia yang sesungguhnya adalah hanya dengan bersyukur. Bersyukur juga bisa membuat Allah Swt. Menambah nikmatnya pada kita. Siapa tau dengan kita bersyukur tidak iri atau dengki terhadap keberhasilan teman, maka Allah akan membukakan jalan pada kita untuk memperoleh sesuatu yang baik yang saat ini belum ada pada kita. Allah kan Maha Kuasa, terserah Dia dong mau ngasih ke siapa.
            Nah, tentunya untuk menarik perhatian Allah Swt. Kita sebagai hambanya juga musti mendekat padanya. Contoh visualisasinya sih, misal kita punya uang lebih kemudian ada dua teman kita yang satu deket sama kita dan yang sau nggak deket-deket banget. Dan uang kita itu Cuma cukup buat ngebantu salah satu dari kedua temen kita itu. Dan ibaratnya juga kebutuhan dari kedua temen kita itu sama, semisal buat beli buku. Nah pastinya kita akan lebih respect sama temen deket kita dan mau ngebantu dia pinjemin uang kita buat beli buku. Nah sama kayak kita ke Allah, kalo kita deket sama Dia pasti bakalan sering dibantu kalo ada kesulitan.
            Dan salah satu cara deket sama Allah adalah punya hati yang bersih. Karena Allah itu suci dan menyukai kesucian. Dalam pelajaran tasawuf juga dijelasin kan ya, kalo hati kita sudah diberi makan dengan dzikir  lalu diberi minum dengan tafakur dan dibersihkan atau dijauhkan dari kotoran-kotoran hati maka hati tersebut akan bisa melihar hal-hal yang bersifat hikmah. Istilahnya hati kita ini tersingkap gitulah. Nah tapi kan pastinya ngga mudah dong ya untuk punya hati yang sehat kayak gitu. Karena ada setan juga yang 24 jam ngikutin kita terus dan bisikin hal yang jelek-jelek. Tapi biarpun begitu kita juga musti tetep beruaha untuk melawan musuh utama kita itu. Ya semoga kita semua selalu dijaga Allah dan diberikan hati yang bersih lagi lembut. Aamiin 

Psikologi Pendidikan : Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
            Belajar merupakan hal yang sangat erat sekali kaitannya dengan kehidupan manusia. Semua pengetahuan, sikap, keterampilan diubah dan dibentuk melalui belajar. Belajar dapat terjadi dimana pun dan kapan pun. Apakah itu  di rumah, di sekolah, di pasar, di masyarakat dan dapat terjadi apakah itu pada pagi hari, siang, sore, ataupun malam hari sekalipun. Sejak membuka mata sampai menutup mata manusia tidak pernah lepas dari yang namanya belajar. Oleh karena itu, kemajuan peradaban yang ada sekarang ini pastilah karena manusia melakukan kegiatan belajar itu sendiri. Bisa dibayangkan bila manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengubah diri atau belajar, pastilah keadaan kita akan tetap sama dari masa ke masa. Tapi untunglah kita sebagai manusia dibekali akal oleh Tuhan sehingga dengan akal tersebut kita dapat berpikir, yang mana dengan adanya berpikir tersebut maka kita dapat belajar.
            Namun, belajar yang akan kita bahas di sini adalah belajar yang dilakukan dengan sengaja. Seperti belajar di sekolah. peserta didik memiliki kemampuan dan latar belakang yang berbeda-beda yang menyebabkan hasil belajar antara manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda. Hal ini pastilah dipengaruhi oleh sebab-sebab tertentu. Yang mana sebab-sebab tersebut bila dimengerti kekurangan dan kelebihannya maka akan sangat menunjang peningkatan kualitas belajar yang mana harapannya akan terjadi peningkatan pada hasil belajar.
B.       Rumusan Masalah
1.        Belajar
a.       Bagaimana definisi belajar menurut para pakar ?
b.      Fase-fase apa saja yang terjadi dalam belajar ?
c.       Hal apa saja yang berkaitan dengan belajar ?
2.        Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ?
C.       Metode Pemecahan Masalah
            Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur atau metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.
D.      Sistematika Penulisan Makalah
            Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi: Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah dan sistematika penulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III bagian penutup yang terdiri dari kesimpulan.












BAB II
PEMBAHASAN
A.       Belajar
1.        Definisi Belajar
       Skinner, seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Education Psychology: The Teaching-Learning Process, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.
       Chaplin dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama yakni belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan kedua yakni belajar ialah proses memperoleh respon sebagai akibat adanya latihan khusus.
       Hintzman dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory berpendapat bahwa belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.
       Dalam penjelasan selanjutnya, pakar psikologi belajar itu menambahkan bahwa pengalaman hidup sehari-hari dalam bentuk apapun sangat memungkinkan untuk diartikan sebagai belajar.
       Wittig dalam bukunya Psychology of Learning mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.[1]
       Reber dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar yakni proses memperoleh pengetahuan. Kedua, belajar yaitu suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.
       Timbulnya keanekaragaman pendapat para ahli tersebut di atas adalah fenomena perselisihan yang wajar karena adanya perbedaan titik pandang. Bertolak dari berbagai definisi yang telah diutarakan tadi, secara umum belajar dapat dipahami  sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Sehubungan dengan pengertian itu perlu diutarakan lagi bahwa perubahan tingkah laku yang timbul akibat proses kematangan, keadaan gila, mabuk, lelah, dan jenuh tidak dapat dipandang sebagai proses belajar.
       Menurut pengertian secara psikologi, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan di dalam tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.[2]
2.        Fase-Fase dalam Belajar
       Menurut Jerome S. Bruner, dalam proses pembelajaran siswa menempuh tiga episode atau fase.
a.       Fase informasi (tahap penerimaan materi).
b.      Fase transformasi (tahap pengubahan materi).
c.       Fase evaluasi (tahap penilaian materi).
       Dalam fase informasi, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari. Di antara informasi yang diperoleh itu ada yang sama sekali baru dan berdiri sendiri ada pula yang berfungsi menambah, memperhalus, dan memperdalam pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki.
      Dalam fase transformasi, informasi yang diperoleh itu dianalisis, diubah, atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual. Bagi siswa pemula, fase ini akan berlangsung lebih mudah apabila disertai bimbingan guru.
       Dalam fase evaluasi, seorang siswa akan menilai sendiri sampai sejauh manakah pengetahuan informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain atau memecahkan masalah yang dihadapi.[3]
3.        Ciri Khas Perilaku Belajar
a.       Perubahan Intensional
       Perubahan yang terjadi adalah berkat praktik yang dilakukan dengan sengaja dan bukan kebetulan. Selain itu, si pembelajar juga juga menghendaki perubahan yang disadari, juga diarahkan pada tercapainya perubahan tersebut.
b.      Perubahan Positif dan Aktif
           Positif artinya perubahan tersebut merupakan penambahan sesuatu yang baru dan keterampilan yang lebih baik. Adapun aktif berarti terjadi karena usaha siswa itu sendiri, ini berarti bahwa perubahan itu bukan terjadi karena faktor kematangan yang ada pada diri individu.[4]
c.       Perubahan Efektif dan Fungsional
           Efektif artinya perubahan tersebut membawa manfaat tertentu bagi siswa. Adapun fungsional yakni dapat memberi manfaat yang luas. Selain itu, perubahan efektif dan fungsional biasanya bersifat dinamis dan mendorong timbulnya perubahan-perubahan positif lainnya.[5]
B.       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
     Ada dua faktor yang mempengaruhi seorang siswa dalam prestasi belajarnya, kedua faktor inilah yang menjadi penyebab seorang peserta didik berprestasi tinggi, berprestasi rendah, atau gagal sama sekali. Faktor-faktor tersebut dapat kita bedakan diantaranya.
1.        Faktor Internal Siswa
       Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri, meliputi dua aspek, yakni: (a) aspek fisiologis; (b) aspek psikologis.

a.       Aspek  Fisiologis
·      Keadaan Tonus Jasmani pada Umumnya
     Keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar. Kondisi organ tubuh lemah, apalagi disertai pusing-pusing kepala misalnya, dapat menurunkan kualitas belajar sehingga materi yang dipelajaripun kurang atau tidak membekas. Dalam hubungan dengan hal ini ada dua hal yang perlu dikemukakan.
(1)   Nutrisi harus cukup karena kekurangan kadar makanan ini akan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani yang pengaruhnya daoat berupa kelesuan, lekas mengantuk, lekas lelah, dn sebagainya.
(2)   Beberapa penyakit kronis sangat menggangu belajar itu seperti pilek, influenza, sakit gigi, batuk dan sejenisnya dengan itu biasanya diabaikan karena dipandang tidak cukup serius untuk mendapatkan perhatian dan pengobatan. Akan tetapi dalam kenyataannya penyakit-penyakit semacam ini sangat mengganggu aktivitas belajar itu.[6]
·      Keadaan Fungsi Pancaindera
     Pancaindera dapat dimisalkan sebagai pintu gerbang masuknya pengaruh ke dalam individu. Kesehatan indera pendengar dan indera penglihat, juga mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan di kelas.
b.      Aspek Psikologis
a)    Intelegensi Siswa
Semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses dalam belajar.
b)   Sikap Siswa
Sikap adalah gejala internal berupa kecenderungan untuk bertindak terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap belajar berkaitan denga pandangan siswa terhadap guru-guru, tingkah laku mereka di kelas, cara mengajar,tujuan yang akan dicapai, materi yang disajikan, praktik, tugas, dan persyaratan yang ditetapkan sekolah. Sikap belajar siswa akan berwujud dalam bentuk perasaan senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju terhadap hal-hal tersebut. Sikap belajar positif berkaitan erat dengan minat dan motivasi . Oleh karena itu, siswa yng sikap belajarnya positif akan belajar lebih aktif dan demikian akan memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan siswa yang sikap belajarnya negatif.[7]
c)      Bakat Siswa
Bakat adlaah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Bakat dapat mempengaruhi tinggi-rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu.
d)     Minat Siswa
Minat berarti kegairahan yang tinggi terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang studi tertentu. Minat yang telah disadari terhadap bidang pelajaran, mungkin sekalia akan menjaga pikiran siswa, sehingga dia bisa menguasai pelajarannya. Pada gilirannya, prestasi yang berhasil akan menambah minatnya, yang berlanjut sepanjang hayat.
e)      Motivasi Siswa
Motivasi yakni keadaan yang mendorong individu untuk berbuat sesuatu. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik  adalah keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik siswa adalah perasaan menyenangi materi atau kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan. Adapun motivasi ekstrinsik dapat berupa pujian dan hadiah, tata tertib sekolah, suri tauladan orangtua, guru, dan seterusnya.
2.        Faktor Eksternal Siswa
       Faktor eksternal siswa terdiri atas tiga macam, yakni: faktor lingkungan, faktor instrumental, dan faktor
a.         Faktor Lingkungan
a)      Lingkungan Alami
       Yaitu kondisi alam yang dapat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar, seperti: cuaca (suhu udara, mendung, hujan, kelembaban), waktu (pagi, siang, sore, petang, malam), musim yang sedang berlangsung, termasuk kejadian alam yang ada.[8]
b)      Lingkungan Sosial
      Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Selanjutnya, lingkungan sosial tempat tinggal siswa seperti masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan disekitar perkampungan siswa tersebut tinggal.
c)      Lingkungan Non-sosial
      Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Letak sekolah misalnya harus memenuhi syarat-syarat seperti di tempat yang tidak terlalu dekat kepada kebisingan atau jalan ramai, lalu bangunan itu harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan dalam ilmu kesehatan sekolah. demikian pula alat-alat pelajaran harus seberapa mungkin diusahakan untuk memenuhi syarat-syarat menurut pertimbangan didaktis, psikologis dan paedagogis.[9]
b.        Faktor Instrumental
       Faktor instrumental adalah faktor yang adanya dan pengujiannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor inilah yang dapat dimanipulasi untuk mencapai tujuan belajar yang telah dirancang. Faktor instrumental antara lain sebagai berikut.
a)      Bahan Pelajaran
·      Panjangnya Bahan Pelajaran
       Semakin panjang bahan pelajaran, semakin panjang pula waktu yag diperlukan .bahan ajar yang terlalu panjang atau terlalu banyak dapat menyebabkan kesulitan individu dalam belajar. Kesulitan belajar individu itu berhubungan dengan faktor kelelahan serta kejemuan si pelajar dalam menghadapi atau mengerjakan bahan yang banyak itu.
·      Kesulitan Bahan Pelajaran
       Setiap bahan pelajaran mengandung tingkat kesulitan bahan pelajaran dan mempengaruhi kecepatan belajar. Makin sulit sesuatu bahan pelajaran, makin lambatlah orang mempelajarinya, begitupun sebaliknya. Bahan yang sulit memerlukan aktivitas belajar yang lebih intensif, sedangkan bahan yang sederhana mengurangi intensitas belajar seseorang.
·      Berartinya Bahan Pelajaran\
       Bahan yang berarti adalah bahan yang dapat dikenali. Bahan yang berarti memungkinkan individu untuk belajar, karena individu dapat mengenalnya. Belajar memerlukan modal pengalaman yang diperoleh dari belajar di waktu sebelumnya. Modal pengalaman itu menentukan keberartian daripada bahan yang dipelajari diwaktu sekarang. Bahan yang berarti adalah bahan yang dapat dikenali. Bahan yang tanpa arti sukar dikenal, akibatnya tak ada pengertian individu terhadap bahan itu.[10]
b)      Guru dan Cara Mengajar
            Faktor guru dan cara mengajarnya merupakan faktor penting pula. Bagaimana sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya pengetahuan yang dimiliki guru, dan bagaimana cara guru itu mengajarkan pengetahuan itu kepada anak didiknya, turut menentukan bagaimana hasil belajar yang dapat dicapai anak. Seorang guru yang memandang profesi guru adalah panggiln jiwa, akan melahirkan perbuatan untuk melayani kebutuhan anak didik dengan segenap jiwa raga.
c)      Sarana dan Prasarana
      Sarana  adalah seluruh inventaris lembaga berupa gedung dan ruang-ruang yang mendukung proses kegiatan belajar mengajar. Sekolah yang cukup memiliki alat-alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat itu, akan mempermudah dan mempercepat belajar anak.[11]
Sarana mempunyai arti penting dalam pendidikan. Suatu sekolah yang mengalami kekurangan dalam sarana,akan menemui banyak masalah. Sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi kurang kondusif. Selain masalah sarana, fasilitas kelengkapan skolah juga tidak dapat diabaikan.  Fasilitas atau prasarana itu meliputi buku ajar siswa, alat peraga dan lain-lain. Lengkap tidaknya fasilitas suatu sekolah, menentukan kualitas anak didik.  Masalah yang anak didik hadapi relative kecil,apabila fasilitas suatu sekolah memadai.[12]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Kita dapat mengetahui seseorang telah belajar, adalah dari perubahan tingkah lakunya. Maka belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Yang mana dengan adanya perubahan tingkah laku tersebut seorang individu dapat mengubah dirinya dan bermanfaat untuk lingkungan di sekitarnya. Walaupun terdapat kesamaan dalam proses belajarnya, namun hasil dari belajar tersebut untuk setiap orang berbeda-beda. Hal tersebut karena dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam maupun dari luar diri tersebut. Bila faktor-faktor tersebut diketahui sedini mungkin, maka akan bisa mengatasi kondisi belajar dari setiap siswa yang bersangkutan. Yang mana harapannya akan tercapai hasil maksimal dalam belajar untuk siswa yang bersangkutan.

















DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono.1991.Psikologi Belajar.Jakarta: Rineka Cipta.
Djaali.2013.Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Islamuddin,Haryu.2012. Psikologi Pendidikan.Jember: Pustaka Pelajar.
Purwanto, M. Ngalim.2003.Psikologi Pendidikan.Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.
Soemanto, Wasty.1998.Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan.Jakarta: Rineka Cipta.
Suryabrata, Sumadi.2002.Psikologi Pendidikan.Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Syah, Muhibbin.1999.Psikologi Pendidikan.Bandung: Remaja Rosdakarya.
Syaiful, Bahri. 2011.Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka  Cipta.