Tampilkan postingan dengan label Psikologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Mei 2016

Psikologi Pendidikan : Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
            Belajar merupakan hal yang sangat erat sekali kaitannya dengan kehidupan manusia. Semua pengetahuan, sikap, keterampilan diubah dan dibentuk melalui belajar. Belajar dapat terjadi dimana pun dan kapan pun. Apakah itu  di rumah, di sekolah, di pasar, di masyarakat dan dapat terjadi apakah itu pada pagi hari, siang, sore, ataupun malam hari sekalipun. Sejak membuka mata sampai menutup mata manusia tidak pernah lepas dari yang namanya belajar. Oleh karena itu, kemajuan peradaban yang ada sekarang ini pastilah karena manusia melakukan kegiatan belajar itu sendiri. Bisa dibayangkan bila manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengubah diri atau belajar, pastilah keadaan kita akan tetap sama dari masa ke masa. Tapi untunglah kita sebagai manusia dibekali akal oleh Tuhan sehingga dengan akal tersebut kita dapat berpikir, yang mana dengan adanya berpikir tersebut maka kita dapat belajar.
            Namun, belajar yang akan kita bahas di sini adalah belajar yang dilakukan dengan sengaja. Seperti belajar di sekolah. peserta didik memiliki kemampuan dan latar belakang yang berbeda-beda yang menyebabkan hasil belajar antara manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda. Hal ini pastilah dipengaruhi oleh sebab-sebab tertentu. Yang mana sebab-sebab tersebut bila dimengerti kekurangan dan kelebihannya maka akan sangat menunjang peningkatan kualitas belajar yang mana harapannya akan terjadi peningkatan pada hasil belajar.
B.       Rumusan Masalah
1.        Belajar
a.       Bagaimana definisi belajar menurut para pakar ?
b.      Fase-fase apa saja yang terjadi dalam belajar ?
c.       Hal apa saja yang berkaitan dengan belajar ?
2.        Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ?
C.       Metode Pemecahan Masalah
            Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur atau metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.
D.      Sistematika Penulisan Makalah
            Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi: Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah dan sistematika penulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III bagian penutup yang terdiri dari kesimpulan.












BAB II
PEMBAHASAN
A.       Belajar
1.        Definisi Belajar
       Skinner, seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Education Psychology: The Teaching-Learning Process, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.
       Chaplin dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama yakni belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan kedua yakni belajar ialah proses memperoleh respon sebagai akibat adanya latihan khusus.
       Hintzman dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory berpendapat bahwa belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.
       Dalam penjelasan selanjutnya, pakar psikologi belajar itu menambahkan bahwa pengalaman hidup sehari-hari dalam bentuk apapun sangat memungkinkan untuk diartikan sebagai belajar.
       Wittig dalam bukunya Psychology of Learning mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.[1]
       Reber dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar yakni proses memperoleh pengetahuan. Kedua, belajar yaitu suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.
       Timbulnya keanekaragaman pendapat para ahli tersebut di atas adalah fenomena perselisihan yang wajar karena adanya perbedaan titik pandang. Bertolak dari berbagai definisi yang telah diutarakan tadi, secara umum belajar dapat dipahami  sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Sehubungan dengan pengertian itu perlu diutarakan lagi bahwa perubahan tingkah laku yang timbul akibat proses kematangan, keadaan gila, mabuk, lelah, dan jenuh tidak dapat dipandang sebagai proses belajar.
       Menurut pengertian secara psikologi, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan di dalam tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.[2]
2.        Fase-Fase dalam Belajar
       Menurut Jerome S. Bruner, dalam proses pembelajaran siswa menempuh tiga episode atau fase.
a.       Fase informasi (tahap penerimaan materi).
b.      Fase transformasi (tahap pengubahan materi).
c.       Fase evaluasi (tahap penilaian materi).
       Dalam fase informasi, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari. Di antara informasi yang diperoleh itu ada yang sama sekali baru dan berdiri sendiri ada pula yang berfungsi menambah, memperhalus, dan memperdalam pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki.
      Dalam fase transformasi, informasi yang diperoleh itu dianalisis, diubah, atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual. Bagi siswa pemula, fase ini akan berlangsung lebih mudah apabila disertai bimbingan guru.
       Dalam fase evaluasi, seorang siswa akan menilai sendiri sampai sejauh manakah pengetahuan informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain atau memecahkan masalah yang dihadapi.[3]
3.        Ciri Khas Perilaku Belajar
a.       Perubahan Intensional
       Perubahan yang terjadi adalah berkat praktik yang dilakukan dengan sengaja dan bukan kebetulan. Selain itu, si pembelajar juga juga menghendaki perubahan yang disadari, juga diarahkan pada tercapainya perubahan tersebut.
b.      Perubahan Positif dan Aktif
           Positif artinya perubahan tersebut merupakan penambahan sesuatu yang baru dan keterampilan yang lebih baik. Adapun aktif berarti terjadi karena usaha siswa itu sendiri, ini berarti bahwa perubahan itu bukan terjadi karena faktor kematangan yang ada pada diri individu.[4]
c.       Perubahan Efektif dan Fungsional
           Efektif artinya perubahan tersebut membawa manfaat tertentu bagi siswa. Adapun fungsional yakni dapat memberi manfaat yang luas. Selain itu, perubahan efektif dan fungsional biasanya bersifat dinamis dan mendorong timbulnya perubahan-perubahan positif lainnya.[5]
B.       Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
     Ada dua faktor yang mempengaruhi seorang siswa dalam prestasi belajarnya, kedua faktor inilah yang menjadi penyebab seorang peserta didik berprestasi tinggi, berprestasi rendah, atau gagal sama sekali. Faktor-faktor tersebut dapat kita bedakan diantaranya.
1.        Faktor Internal Siswa
       Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri, meliputi dua aspek, yakni: (a) aspek fisiologis; (b) aspek psikologis.

a.       Aspek  Fisiologis
·      Keadaan Tonus Jasmani pada Umumnya
     Keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar. Kondisi organ tubuh lemah, apalagi disertai pusing-pusing kepala misalnya, dapat menurunkan kualitas belajar sehingga materi yang dipelajaripun kurang atau tidak membekas. Dalam hubungan dengan hal ini ada dua hal yang perlu dikemukakan.
(1)   Nutrisi harus cukup karena kekurangan kadar makanan ini akan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani yang pengaruhnya daoat berupa kelesuan, lekas mengantuk, lekas lelah, dn sebagainya.
(2)   Beberapa penyakit kronis sangat menggangu belajar itu seperti pilek, influenza, sakit gigi, batuk dan sejenisnya dengan itu biasanya diabaikan karena dipandang tidak cukup serius untuk mendapatkan perhatian dan pengobatan. Akan tetapi dalam kenyataannya penyakit-penyakit semacam ini sangat mengganggu aktivitas belajar itu.[6]
·      Keadaan Fungsi Pancaindera
     Pancaindera dapat dimisalkan sebagai pintu gerbang masuknya pengaruh ke dalam individu. Kesehatan indera pendengar dan indera penglihat, juga mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan di kelas.
b.      Aspek Psikologis
a)    Intelegensi Siswa
Semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses dalam belajar.
b)   Sikap Siswa
Sikap adalah gejala internal berupa kecenderungan untuk bertindak terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap belajar berkaitan denga pandangan siswa terhadap guru-guru, tingkah laku mereka di kelas, cara mengajar,tujuan yang akan dicapai, materi yang disajikan, praktik, tugas, dan persyaratan yang ditetapkan sekolah. Sikap belajar siswa akan berwujud dalam bentuk perasaan senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju terhadap hal-hal tersebut. Sikap belajar positif berkaitan erat dengan minat dan motivasi . Oleh karena itu, siswa yng sikap belajarnya positif akan belajar lebih aktif dan demikian akan memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan siswa yang sikap belajarnya negatif.[7]
c)      Bakat Siswa
Bakat adlaah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Bakat dapat mempengaruhi tinggi-rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu.
d)     Minat Siswa
Minat berarti kegairahan yang tinggi terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang studi tertentu. Minat yang telah disadari terhadap bidang pelajaran, mungkin sekalia akan menjaga pikiran siswa, sehingga dia bisa menguasai pelajarannya. Pada gilirannya, prestasi yang berhasil akan menambah minatnya, yang berlanjut sepanjang hayat.
e)      Motivasi Siswa
Motivasi yakni keadaan yang mendorong individu untuk berbuat sesuatu. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik  adalah keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik siswa adalah perasaan menyenangi materi atau kebutuhannya terhadap materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan. Adapun motivasi ekstrinsik dapat berupa pujian dan hadiah, tata tertib sekolah, suri tauladan orangtua, guru, dan seterusnya.
2.        Faktor Eksternal Siswa
       Faktor eksternal siswa terdiri atas tiga macam, yakni: faktor lingkungan, faktor instrumental, dan faktor
a.         Faktor Lingkungan
a)      Lingkungan Alami
       Yaitu kondisi alam yang dapat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar, seperti: cuaca (suhu udara, mendung, hujan, kelembaban), waktu (pagi, siang, sore, petang, malam), musim yang sedang berlangsung, termasuk kejadian alam yang ada.[8]
b)      Lingkungan Sosial
      Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Selanjutnya, lingkungan sosial tempat tinggal siswa seperti masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan disekitar perkampungan siswa tersebut tinggal.
c)      Lingkungan Non-sosial
      Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Letak sekolah misalnya harus memenuhi syarat-syarat seperti di tempat yang tidak terlalu dekat kepada kebisingan atau jalan ramai, lalu bangunan itu harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan dalam ilmu kesehatan sekolah. demikian pula alat-alat pelajaran harus seberapa mungkin diusahakan untuk memenuhi syarat-syarat menurut pertimbangan didaktis, psikologis dan paedagogis.[9]
b.        Faktor Instrumental
       Faktor instrumental adalah faktor yang adanya dan pengujiannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor inilah yang dapat dimanipulasi untuk mencapai tujuan belajar yang telah dirancang. Faktor instrumental antara lain sebagai berikut.
a)      Bahan Pelajaran
·      Panjangnya Bahan Pelajaran
       Semakin panjang bahan pelajaran, semakin panjang pula waktu yag diperlukan .bahan ajar yang terlalu panjang atau terlalu banyak dapat menyebabkan kesulitan individu dalam belajar. Kesulitan belajar individu itu berhubungan dengan faktor kelelahan serta kejemuan si pelajar dalam menghadapi atau mengerjakan bahan yang banyak itu.
·      Kesulitan Bahan Pelajaran
       Setiap bahan pelajaran mengandung tingkat kesulitan bahan pelajaran dan mempengaruhi kecepatan belajar. Makin sulit sesuatu bahan pelajaran, makin lambatlah orang mempelajarinya, begitupun sebaliknya. Bahan yang sulit memerlukan aktivitas belajar yang lebih intensif, sedangkan bahan yang sederhana mengurangi intensitas belajar seseorang.
·      Berartinya Bahan Pelajaran\
       Bahan yang berarti adalah bahan yang dapat dikenali. Bahan yang berarti memungkinkan individu untuk belajar, karena individu dapat mengenalnya. Belajar memerlukan modal pengalaman yang diperoleh dari belajar di waktu sebelumnya. Modal pengalaman itu menentukan keberartian daripada bahan yang dipelajari diwaktu sekarang. Bahan yang berarti adalah bahan yang dapat dikenali. Bahan yang tanpa arti sukar dikenal, akibatnya tak ada pengertian individu terhadap bahan itu.[10]
b)      Guru dan Cara Mengajar
            Faktor guru dan cara mengajarnya merupakan faktor penting pula. Bagaimana sikap dan kepribadian guru, tinggi rendahnya pengetahuan yang dimiliki guru, dan bagaimana cara guru itu mengajarkan pengetahuan itu kepada anak didiknya, turut menentukan bagaimana hasil belajar yang dapat dicapai anak. Seorang guru yang memandang profesi guru adalah panggiln jiwa, akan melahirkan perbuatan untuk melayani kebutuhan anak didik dengan segenap jiwa raga.
c)      Sarana dan Prasarana
      Sarana  adalah seluruh inventaris lembaga berupa gedung dan ruang-ruang yang mendukung proses kegiatan belajar mengajar. Sekolah yang cukup memiliki alat-alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat itu, akan mempermudah dan mempercepat belajar anak.[11]
Sarana mempunyai arti penting dalam pendidikan. Suatu sekolah yang mengalami kekurangan dalam sarana,akan menemui banyak masalah. Sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi kurang kondusif. Selain masalah sarana, fasilitas kelengkapan skolah juga tidak dapat diabaikan.  Fasilitas atau prasarana itu meliputi buku ajar siswa, alat peraga dan lain-lain. Lengkap tidaknya fasilitas suatu sekolah, menentukan kualitas anak didik.  Masalah yang anak didik hadapi relative kecil,apabila fasilitas suatu sekolah memadai.[12]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Kita dapat mengetahui seseorang telah belajar, adalah dari perubahan tingkah lakunya. Maka belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Yang mana dengan adanya perubahan tingkah laku tersebut seorang individu dapat mengubah dirinya dan bermanfaat untuk lingkungan di sekitarnya. Walaupun terdapat kesamaan dalam proses belajarnya, namun hasil dari belajar tersebut untuk setiap orang berbeda-beda. Hal tersebut karena dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam maupun dari luar diri tersebut. Bila faktor-faktor tersebut diketahui sedini mungkin, maka akan bisa mengatasi kondisi belajar dari setiap siswa yang bersangkutan. Yang mana harapannya akan tercapai hasil maksimal dalam belajar untuk siswa yang bersangkutan.

















DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono.1991.Psikologi Belajar.Jakarta: Rineka Cipta.
Djaali.2013.Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Islamuddin,Haryu.2012. Psikologi Pendidikan.Jember: Pustaka Pelajar.
Purwanto, M. Ngalim.2003.Psikologi Pendidikan.Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.
Soemanto, Wasty.1998.Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan.Jakarta: Rineka Cipta.
Suryabrata, Sumadi.2002.Psikologi Pendidikan.Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Syah, Muhibbin.1999.Psikologi Pendidikan.Bandung: Remaja Rosdakarya.
Syaiful, Bahri. 2011.Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka  Cipta.