Tampilkan postingan dengan label Metodologi Penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metodologi Penelitian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2016

mp


PROPOSAL PENELITIAN

A.    Judul Penelitian
Judul penelitian ini adalah Pengaruh Penggunaan Media Audio Visualterhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII di SMPN 3 Warureja

B.     Latar Belakang Masalah
            Belajar merupakan prosedur latihan sepanjang hayat.Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku.[1] Belajar dapat dilakukan kapan dan dimana saja, selagi kondisi dari sang pembelajar selalu siap menerima pelajaran maka proses dari hakikat belajar itu sendiri dapat terpenuhi.
Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajaradalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkindisebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan (kognitif),keterampilan (psikomotor), atau sikapnya (afektif).[2]Dalam pendidikan formal, prestasi belajar siswa merupakan tolak ukur untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa tersebut.Dan siswa akan benar-benar dikatakan berhasil dalam pembelajaran apabila ia mampu menerapkan ilmu yang ia dapat dalam kehidupannya.
            Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah proses komunikasi, dalam komunikasi sering timbul dan terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi tersebut tidak efektif dan tidak efisien, antara lain disebabkan kurangnya minat dan kurangnya kegairahan.[3]Komunikasi merupakan proses dimana ada pemberi informasi dan penerima informasi.
Dalam pembelajaran, guru memiliki peran yang sangat penting.Yakni sebagai sumber belajar.Tetapi dalam hal ini, tidak semua guru memenuhi spesifikasi atau dapat diandalkan sebagai sumber belajar. Guru terkadang tidak menerapkan atau mungkin tidak memahami teknik mengajar yang sesuai dengan siswa atau mata pelajaran yang diampunya. Seperti guru yang suaranya lemah atau minim dalam ilustrasi pembelajaran. Sehingga tujuan dari pembelajaran kurang terealisasi.
            Kondisi dari setiap siswa pada saat menerima pelajaranpun tidak semuanya sama. Kondisi yang seharusnya diharapkan siswa bisa siap dalam menerima pelajaran, terkadang tidak terpenuhi karena dipengaruhi oleh banyak hal dalam diri siswa itu.Apalagi bila penyampaian dari guru membuat siswa tidak tertarik, hal tersebut tentu tidak memberi pengaruh positif pada diri siswa setelah pembelajaran.Di sinilah seyogyanya guru bisa mengatasi masalah-masalah belajar yang ada pada setiap diri siswa.Sehingga siswa bisa tertarik dan memperhatikan pelajaran yang disampaikan.Kemudian pada akhirnya siswa sendiri yang butuh pada pelajaran tersebut.
            Saat ini perkembangan teknologi sangat cepat dan sudah memasuki ranah pendidikan.Dengan adanya teknologi ini, guru dapat menutupi kekurangannya dalam hal penyampaian materi pada siswa.Untuk itu, guru harus mengetahui dan menguasai teknologi atau alat-alat pelajaran yang tersedia.Alat pelajaran yang tersedia dapat disebut sebagai media pembelajaran, karena sebagai perantara penyampaian informasi dari guru kepada murid.
            Salah satu manfaat dari media pembelajaran adalah menjadikan materi pelajaran lebih menarik.Ketika siswa tertarik dengan suatu mata pelajaran, maka ia akan mempelajari pelajaran tersebut dengan tanpa beban sehingga hal ini memungkinkan siswa untuk bisa berprestasi di mata pelajaran tersebut.Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.[4]Dengan demikian media pembelajaran yang ada di lingkungan sekolah dapat mengatasi masalah-masalah yang ada dalam proses belajar mengajar.
            Pendidikan Agama Islam diajarkan diseluruh sekolah umum di Indonesia.Materi dalam pelajaran agama Islam sangatlah beragam.Tidak hanya dapat disampaikan secara verbalisme atau hanya tulisan melalui media papan tulis, tetapi memerlukan berbagai macam media untuk memenuhi tujuan pembelajarannya.Pendidikan agama Islam bukan hanya menuntut pemahaman teori tetapi juga menuntut pemahaman prakteknya.
            Untuk mendapatkan pemahaman yang konkrit maka penyampaian dari pelajaran ini sendiri haruslah memberikan pengalaman belajar yang mumpuni kepada para siswa.Salah satunya dengan menggunakan media audio visual.Media audio visual menggabungkan antara pengalaman belajar secara audio dan secara visual. Dengan cara memberikan pengalaman belajar melalui indera mata dan telinga, tentunya pembelajaran akan lebih optimal.
            SMPN 3 Warureja Tegal merupakan lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.Pelajaran Agama Islam merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di sekolah ini.Pendidikan Agama Islam hanya diberikan satu kali dalam satu minggu dan hanya 2 jam saja. Hal ini berarti waktu belajar mata pelajaran ini harus digunakan sebaik dan seefektif mungkin, sehingga dengan waktu yang sedikit dapat menghasilkan sesuatu yang maksimal.
            Keadaan yang terjadi di lapangan saat ini, bahwasanya siswa belum bisa menerapkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang telah diajarkan.Hal ini mengindikasikan bahwasanya pembelajaran Pendidikan Agama Islam belum bisa dipahami secara mendalam oleh siswa.Pemahaman yang kurang ini dipicu oleh kurangnya pemanfaatan media pembelajaran yang seyogyanya memberi keefektifan dalam penyampaian materi.Para pengajar masih dominan kepada verbalisme dalam penyampaian materi, sehingga pemahaman siswa berbeda-beda tergantung daya nalar dari masing-masing siswa.Dan juga penyampaian materi yang secara terus menerus dengan verbalisme ini bisa membuat siswa menjadi bosan dan kurang tertarik dengan pelajaran Pendidikan Agama Islam.
            Seiring dengan perkembangan teknologi, media audio visual saat ini sudah tidak sulit ditemui.Peneliti ingin mengetahui seberapa besar pengaruh dari media audio visual ini terhadap prestasi siswa khususnya pada pembelajaran PAI.Untuk itu peneliti tertarik mengambil judul “Pengaruh Penggunaan Media Audio Visualterhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII di SMPN 3 Warureja Tegal”.
C.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti dapat merumuskanmasalah sebagai berikut.
1.      Apakah media audio visualdapat meningkatkan perhatian belajar Pendidikan Agama Islampada siswa kelas VII di SMPN 3 Warureja Tegal?
2.      Apakah melalui media audio visualdapat meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Agama Islampada siswa kelas VII SMPN 3 WarurejaTegal ?
D.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1.      Mengetahui pengaruh media audio visualterhadap perhatian belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas VII di SMPN 3 Warureja Tegal.
2.      Mengetahui pengaruh media audio visualterhadap peningkatan prestasi  belajarPendidikan Agama Islam siswa kelas VII di SMPN 3 Warureja Tegal.
E.     Kegunaan penelitian:
1.      Secara teoritis berguna terhadap hasil penelitian ini dapat memperkaya informasi yang berupa pengetahuan baru
2.      Secara praktis hasil penelitian dapat bermanfaat dalam mengatasi masalah yang ada pada objek yang diteliti.
F.      Hipotesis Penelitian
            Hipotesis adalah dugaan yang mungkin benar, atau mungkin salah.[5] Sedangkan menurut Iskandar, hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang hendak dicari solusi pecahan melalui penelitian, yang dirumuskan atas dasar pengetahuan, pengalaman dan logika yang kemudian akan diuji kebenarannya melalui penelitian yang hendak dilakukan.[6]Berdasarkan pendapat tersebut, hipotesis yang peneliti ajukan dalam penelitian ini adalah adanya pengaruh penggunaan media visual dan audio terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas VII SMPN 3 Warureja Tegal.
G.    Tinjauan Pustaka
Menurut Lyle E. Bourne dan Bruce R. Ekstrand, belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang diakibatkan oleh pengalaman dan latihan.Sedangkan menurut Cliford T. Morgan, belajar merupakan perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang merupakan hasil pengalaman yang lalu.[7]
Adapun menurut Mustaqim dalam bukunya Psikologi Pendidikan mengungkapkan bahwa prinsip-prinsip belajar antara lain sebagai berikut:
1.      Belajar akan berhasil jika disertai kemauan dan tujuan tertentu.
2.      Belajar akan lebih berhasil jika disertai berbuat, latihan dan ulangan.
3.      Belajar lebih berhasil jika memberi sukses yang menyenangkan.
4.      Belajar lebih berhasil jika tujuan belajar berhubungan dengan aktivitas belajar itu sendiri.
5.      Belajar lebih berhasil jika bahan yang sedang dipelajari dipahami, bukan sekedar menghafal fakta.
6.      Dalam proses belajar memerlukan bantuan dan bimbingan orang lain.
7.      Hasil belajar dibuktikan dengan adanya perubahan dalam diri si pelajar.
8.      Ulangan atau latihan peru akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.[8]
Belajar merupakan aktivitas yang didorong oleh berbagai faktor untuk mendukung keberhasilannya. Dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan, Sumardi Suryabrata menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar diantaranya adalah:
1.      Faktor yang berasal dari luar diri si pelajar, dan ini masih digolongkan kedalam dua golongan lagi yakni faktor non sosial dan faktor sosial.
2.      Faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar, dan inipun masih digolongkan menjadi dua golongan yaitu faktor fisiologis dan faktor psikologis.[9]
Diantara faktor yang berasal dari luar diri si pelajar adalah faktos non sosial. Dalam faktor non sosial meliputi keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu belajar,tempat belajar, alat-alat yang digunakan untuk belajar(seperti alat tulis menulis, buku-buku, alat-alat peraga).Di sini dijelaskan, bahwasanya alat peraga (media) menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
Dalam bukunya yang berjudul Media Pendidikan, Azhar Arsyad menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab, media adalah perantara (وسائل) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach dan Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap.Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.[10]
Sebuah media yang didalamnya mengandung pesan-pesan pengajaran maka media itu disebut media pembelajaran. Hamalik (1986) melihat hubungan komunikasi akan berjalan lancar apabila menggunakan alat bantu. Gagne dan Briggs (1975) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri dari antara lain buku, tape recorder, kaset, video camera, video recorder, film slide, foto, gambar, grafik, televisi, dan komputer. Dengan kata lain, media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.[11]
Wina Sanjaya dalam bukunya yang berjudul Media Komunikasi Pembelajaran, menyebut media jika dilihat dari sifatnya, dibagi kedalam:
1.      Media auditif, yaitu media yang hanya dapat didengar saja, atau media yang hanya memiliki unsur suara, seperti tape recorder, radio, kaset, piringan hitam da rekaman suara.
2.      Media visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat saha, seperti foto, film slide, transparansi, lukisan, gambar, dan berbagai bentuk bahan yang dicetak.
3.      Media audio visual, yaitu jenis media yang mengandung unsur suara dan juga unsur gambar. Seperti rekaman video, berbagai ukuran film, slide suara dan lain sebagainya. Kemampuan media ini dianggap lebih baik dan lebih menarik, sebab mengandung kedua unsur jenis media yang pertama dan kedua.[12]
Sudarwan Danim dalam bukunya yang berjudulMedia Komunikasi Pendidikan menuliskan bahwa belajar merupakan suatu proses yang berlangsung secara kontinu. Pemahaman merupakan unsur penting dalam belajar, jika mahasiswa benar-benar memahami setiap materi pelajaran, mereka akan siap memberi jawaban atas pertanyaan dalam belajar(Sardiman, 1986). Dalam hal ini, pemahaman diartikan sebagai kecepatan kemampuan dalam memahami setiap materi pelajaran, ia akan secara cepat pula menyelesaikan studinya, serta akan mampu menapai prestasi belajar optimal.[13]
            Lia Farchah dalam skripsinya yang berjudul Pengaruh Penggunaan Media Gambar pada Pembelajaran Fiqih terhadap Prestasi Belajar Peserta Didik di MI Walisongo Pajomblangan 02 Kedungwuni Pekalongan menyebutkan bahwa dalam proses pembelajaran, hasil belajar sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah instrumental input atau faktor-faktor yang disengaja dirancang dan dimanipulasi untuk pembelajaran seperti sarana atau fasilitas belajar.[14]
H.    Kerangka Teori
Menurut Lyle E. Bourne dan Bruce R. Ekstrand, belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang diakibatkan oleh pengalaman dan latihan. Pasti dibutuhkan pendukung untuk menunjang proses belajar itu sendiri. Salah satu faktor yang mempengaruhi belajar adalah adanya alat yang digunakan atau alat pembelajaran. Alat pembelajaran menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar seseorang karena alat pembelajaran memberikan lebih banyak pengalaman belajar. Dengan banyaknya pengalaman belajar maka akan semakin banyak pula perubahan tingkah laku yang diharapkan dari hasil belajar.
Media audio visual memberikan banyak pengalaman belajar dengan memfokuskan pada alat indera. Yang mana dengan penggunaan media audio visual ini pengalaman belajar yang diterima siswa yakni melalui mata dan telinga. Dengan begitu siswa akan lebih mengingat apa yang ia pelajari. Berarti dapat dibuat kerangka berpikir asosiatif atau hubungan yakni jika dalam pembelajaran penggunaan media audio visual maksimal maka prestasi belajar siswa akan meningkat.
I.       Metode Penelitian
1.      Pendekatan dan Jenis Penelitian
                        Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian survei.Metode penelitian survei adalah metode penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, untuk menemukan kejadian-kejadin relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis.[15]
2.      Populasi dan Sampel Penelitian
                        Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Sedangkan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi.[16]Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh siswakelas VII SMPN Warureja Tegal yang berjumlah 203. Maka untuk sampel penelitian, peneliti akan mengambil 25% dari 203 yang berarti sampelnya adalah 52. Menurut Suharsimi Arikunto, apabila subjek kurang dari 100, lebih baik diambilsemua. Selanjutnya apabila jumlah populasi besar atau lebih dari 100 dapat diambil 10% – 15% atau 20% – 25% atau lebih[17]
3. Teknik Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah :
a.       Metode Observasi. Metode observasi adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut.[18] Peneliti mengamati keadaan sarana dan prasarana yang ada di SMPN 3 Warureja Tegal.
b.      Metode Dokumentasi. Peneliti menggunakan metode ini, karena variable dependent (prestasi belajar PAI) dapat dikumpulkan dan diidentifikasi dengan cara mengambil nilai pelajaran PAI siswa kelas VII di SMPN 3 Warureja Tegal.
c.       Metode Menggunakan kuesioner (angket). Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.[19] Metode ini digunakan untuk memperoleh data mengenai penggunaan media audio visual pada pembelajaran PAI di SMPN 3 Warureja Tegal.
3.      Teknik Analisis Data
Menggunakan korelasi product moment. Korelasi product moment digunakan untuk menguji hipotesis hubungan antara satu variabel independent dengan satu dependent.[20] Setelah ketemu Rxy langkah selanjutnya mencari R kuadrat, kemudian setelah ketemu R2 langkah selanjutnya R2 dikalikan 100, maka akan ketemu seberapa (dalam %) pengaruh penggunaan media audio visual terhadap prestasi belajar PAI siswa kelas VII SMPN 3 Warureja Tegal. Adapun rumus korelasi product moment adalah sebagai berikut.

rxy=
Untuk memudahkan menginterpretasikan data yang diperoleh, Sarwono memberikan kriteria sebagai berikut:
1.    Koefisien korelasi 0                        = tidak ada korelasi antara dua variabel.
2.    Koefisien korelasi 0 – 0,25             = korelasi sangat lemah.
3.    Koefisien korelasi 0,25 – 0,5          = korelasi cukup.
4.    Koefisien korelasi 0,5 – 0,75          = korelasi kuat
5.    Koefisen korelasi 0,75 – 0,99         = korelasi sangat kuat.
6.    Koefisien korelasi 1                        = korelasi sempurna.




Daftar Pustaka

Arikunto,Suharsimi. 2002.Prosedur Penelitian SuatuPendekatan Praktek. Jakarta: PT.Rineka Cipta.
Arsyad,Azhar.Media Pembelajaran.2005.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Danim, Sudarwan.1995. Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Farchah, Lia. Pengaruh Penggunaan Media Gambar pada Pembelajaran Fiqih terhadap Prestasi Belajar Peserta Didik di MI Walisongo Pajomblangan 02 Kedungwuni Pekalongan. Pekalongan: Skripsi STAIN Pekalongan.
Fauzi, Muchamad. 2009.Metode Penelitian Kuantitatif. Semarang: Walisongo Press.
Hadi,SutrisnoMetodologi Research. 1995.Yogyakarta: Andi Offset.
Iskandar. 2008.Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitatif danKualitatif).Jakarta: Gaung Persada Press.
Mustaqim.2008.Psikologi Pendidikan.Semarang: Pustaka Pelajar.
Sanjaya,Wina.2010.Kurikulum dan Pembelajaran.Jakarta: Prenada Media Group.
Sanjaya, Wina. 2012. Media Komunikasi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, Nana Syaodih.2010. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Suryabrata, Sumadi.1995. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada.




Rabu, 11 Mei 2016



 Makalah Metodologi Penelitian : Mengidentifikasi Proposal Penelitian




PENDAHULUAN
            Dalam penelitian ilmu-ilmu sosial dan pendidikan, apapun masalah yang akan diteliti pada umumnya menggunakan format penelitian yang sesuai dengan pendekatan penelitian, apakah menggunakan pendekatan kuantitatif atau pendekatan kualitatif. Dua pendekatan ini memiliki filosofi yang berbeda, baik dari segi teori, metode dan prosedur serta proses penelitian.
            Tahap pra penelitian merupakan tahap awal bagi peneliti untuk merencanakan, merumuskan dan mendesain usulan penelitian tentang apa masalah yang akan diteliti, dan bagaimana solusi penyelesaian masalah penelitian tersebut, tahap mendesain penelitian (usulan proposal), seperti bagi mahasiswa S1, S2, dan S3. Untuk itu, penyusunan proposal penelitian tidak bisa dihindari oleh seseorang yang ingin meneliti, untuk menyusun proposal penelitian diperlukan suatu persiapan semaksimal mungkin baik pemikiran, waktu, maupun tenaga secara berkesinambungan. Dalam menyusun rancangan penelitian, perlu diantisipasi tentang berbagai sumber yang dapat digunakan untuk mendukung dan yang menghambat terlaksananya penelitian.
            Desain penelitian tidak hanya bermanfaat bagi poeneliti saja. Apabila penelitian kita akan didanai oleh sponsor atau lembaga tertentu, biasanya kita diharuskan menyusun desain penelitian terlebih dahulu. Kualitas proses penelitian, sangat dipengaruhi oleh kualitas desain penelitian yang disusun. Karena merupakan satu-satunya alat untuk mengkomunikasikan rencana peneliti kepada pihak lain, proposal harus berisi informasi yang lengkap tentang desain penelitiannya.



PEMBAHASAN
A.  Komponen-komponen Proposal Penelitian
1.    Pendahuluan
a.       Masalah Penelitian
Penelitian pada hakekatnya bertujuan memecahkan masalah dengan menuruti suatu aturan tertentu, sehingga diperoleh suatu kesimpulan atau generalisasi, baik untuk mendukung atau menyanggah suatu teori ataupun untuk menemukan teori baru. Oleh karena itu dalam menyusun rancangan penelitian, masalah perlu dianalisa dan dirumuskan, sehingga apa yang akan dipecahkan menjadi jelas ruang lingkup dan batas-batasnya.
Pada bagian ini pula, disampimg dibuat perumusan dan/atau pembatasan masalah, dikemukakan pula alasan mengapa dilakukan penelitian terhadp masalah itu baik ditinjau dari segi alasan teoritis maupun alasan praktis. Deskrispsi tentang alasan ini dibuat dalam latar belakang yang mengawali rumusan masalah.
b.    Tujuan dan Kepentingan Penelitian
Untuk memberi arah pelaksanaan penelitian, proposal penelitian memuat tujuan apa yang hendak dicapai. Proposal penelitian juga perlu mencantumkan sampai sejauh mana penelitian akan memberi manfaat dan tunjangan terhadap perbaikan dan pengembangan bidang yang diteliti pada khususnya, umumnya terhadap dunia kependidikan.
c.    Acuan Teori
Pelaksanaan penelitian biasanya mengacu kepada teori tertentu. Dalam proposal yang disusun teori atau konsep-konsep terkait dideskripsikan secara jelas.
d.   Subyek Penelitian
Populasi berikut karakteristiknya hendaklah diutarakan pada proposal penelitian, sehingga jelas pada siapa penelitian itu dilakukan dan untuk siapa generalisasi hasil penelitian diberlakukan.[1]
e.    Metode Penelitian
Uraian tentang metode penelitian mencakup metode penelitain yang digunakan, teknik dan instrument pengumpul data, dan teknik analisis data model rancangan tentang hubungan variable yang akan diuji serta bagaimana hubungan variable itu diuji. Dalam analisis data diuraikan tentang langkah yang ditempuh dalam mengolah data atau menguji hipotesis, serta bagaimana teknik yang digunakan. Dalam hal ini harus pula diadakan perkiraan tentanag pendekatan yang digunakan dalam menganalisis data; apakah pendekatan kualitatif ataukah kuantitatif.
f.     Jadwal Kegiatan, Organisasi Pelaksanaan, dan Alokasi Dana[2]
Jadwal kegiatan biasanya berupa tabel yang memuat rincian pekerjaan mulai dai awal hingga akhir penelitian yang disusun berdasarkan periode waktu mingguan atau bulanan.[3]
Dalam penelitian harus diketahui secara benar pos-pos apa saja yang dianggarkan dalam pelaksanaan penelitian.[4]
B.  Proposal Penelitian Kuantitatif
Proposal untuk penelitian kuantitatif harus mencerminkan pendekatan penelitian deduktif[5]. Karena permasalahan yang diteliti sudah jelas dan prosedur penelitian sudah baku, maka proposal penelitian kuantitatif dipandang sebagai “blue print” yang harus digunakan sebagai pedoman baku dalam melaksanakan penelitian.
1.      Pendahuluan
a.       Latar Belakang Masalah
Dalam latar belakang peneliti mengungkap adanya kesenjangan antara yang terjadi di lapangan dengan teori atau harapan.[6] Untuk memperkuat argumentasi maka ditampilkan dasar teori atau data sehingga pembaca menjadi yakin dan tertarik untuk membaca hasil penelitian kita dan juga untuk menunjukkan bahwa masalah tersebut memang layak untuk diteliti.[7] Selain itu peneliti juga mengungkapkan apa yang hendak diteliti, di mana kejadiannya, teori-teori yang digunakan, indikator-indikator penelitian, dan bagaimana masalah itu dipecahkan.
b.      Identifikasi Masalah
Semua masalah dalam obyek, baik yang akan diteliti maupun yang tidak sedapat mungkin dikemukakan. Selanjutnya dikemukakan hubungan satu masalah dengan masalah lain. Selanjutnya masalah tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk variabel.[8]
c.       Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dilakukan untuk mengetahui variabel apa saja yang akan diteliti, serta bagaimana hubungan variabel satu dengan variabel yang lain.



d.      Rumusan Masalah
Bagian ini menjelaskan masalah peneltian yang akan dikaji. Masalah hendaknya dirumuskan secara jelas dan spesifik. Sebaiknya rumusan masalah itu dinyatakan dalam kalimat pertanyaan.
e.       Tujuan Penelitian
Metode kuantitatif tujuannya ialah menguji teori secara deduksi. Penelitian kuantitatif digunakan untuk tujuan penelitian deskriptif dan eksplanatif. Rumusan tujuan penelitian harus konsisten dengan rumusan masalah penelitian.[9]
2.      Kajian Kepustakaan
Didasarkan pada teoritis yang digunakan untuk merumuskan masalah dan membangun hipotesis penelitian. Dalam aktivitas penelitian peran teori sangat penting dan diperlukan dalam menjelaskan variabel-variabel yang akan diteliti, penelitian akan lebih mudah membuat pilihan variabel-variabel yang berhubungan dengan fenomena yang dikaji.[10]
3.      Metode Penelitian
Untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis, diperlukan metode penelitian. Untuk itu dibagian ini perlu ditetapkan metode penelitian apa yang akan digunakan apakah metode survey, eksperimen, analisis isi atau analisis sekunder.[11]
Pendekatan dan rancangan penelitian, populasi dan sampel penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data.
a.       Populasi dan Sampel
Untuk pengambilan sampel dari populasi dilakukan secara random dengan kesalahan tertentu.

b.      Teknik pengumpulan data
Beberapa teknik pengumpulan data yang dapat digunakan dalam penelitian adalah wawancara, angket, observasi, dokumentasi, dan gabungan. Yang diperlukan di sini adalah teknik pengumpulan data mana yang paling tepat, sehingga batas yang di dapat valid dan reliable.[12]
c.       Instrument Penelitian
Bertujuan untuk mengukur variable maka jumlah instrument yang digunakan tergantung jumlah variable yang diteliti. Instrument yang digunakan biasanya tes, angket, dan wawancara terstruktur.
d.      Teknik Analisis Data
Berkenaan dengan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan pengujian hipotesis yang diajukan. Bagi data kuantitatif tentu saja tekniknya adalah statistik, maka hendaklah disebutkan metode dan jenis statistiknya. Untuk metode misalnya deskriptif atau inferensial, sedangkan jenisnya misal persen, rata-rata, korelasi, analisis varians atau yang lain.[13]
4.      Organisasi dan Jadwal Penelitian
5.      Biaya yang Diperlukan
6.      Daftar Pustaka
C.  Proposal Penelitian Kualitatif
Yaitu rancangan penelitian yang dipersiapkan secara resmi lengkap namun bisa berubah, tidak kaku tetapi cukup fleksibel. Rancangan penelitiannya akan terus berkembang setelah peneliti tahu dan memahami latar penelitiannya, subyek penelitiannya, sumber-sumber datanya setelah melalui pemeriksaan segi cara langsung dilokasi penelitian. Oleh karenanya proposal penelitian kualitatif disebut emergent design, artinya sejak awal apa-apa yang akan diteliti dalam perjalanan proses akan berubah. Rancangan penelitian itu bukannya tidak ada, tetap ada namun berubah-ubah.[14]
1.    Pendahuluan
a.       Latar Belakang Masalah
                        Dalam latar belakang ini, peneliti menyatakan alasan mengambil topik ini. Kemudian peneliti juga memasukkan deskripsi singkat tentang pendekatan yang digunakan. Peneliti juga menjelaskan bahwa rencana penelitian memiliki kontribusi pada pertumbuhan penelitian kualitatif terkait topik-topik yang diminati.
b.      Fokus Penelitian
Fokus itu pada dasarnya adalah sumber pokok dari masalah penelitian. Penentuan fokus penelitian berdasarkan hasil studi pendahuluan, pengalaman, referensi dan disarankan oleh pembimbing atau orang yang dipandang ahli. Fokus dalam penelitian masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti dilapangan.[15]
c.       Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian kualitatif tidak berkenaan dengan variable penelitian yang bersifat spesifik tetapi lebih makro dan berkaitan dengan kemungkinan apa yang terjadi pada obyek atau situasi sosial penelitian.
d.      Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menemukan. Yakni menemukan teori, memperoleh pemahaman makna, dan mengembangkan realitas kompleks.[16]
e.       Manfaat Penelitian
Untuk penelitian kualitatif, manfaat penelitian lebih bersifat teoritis, yaitu untuk mengembangan ilmu, namun juga tidak menolak manfaat praktisnya untuk memecahkan masalah. Bila peneliti kualitatif dapat menemukan teori, maka akan berguna untuk menjelaskan, memprediksi, dan mengendalikan suatu gejala.
2.    Studi Kepustakaan
Peneliti mendeskripsikan teori-teori yang terkait dengan bidang dan konteks sosial yang diteliti. Teori dalam penelitian kualitatif bersifat sementara dan akan berkembang atau berubah setelah peneliti berada di lapangan. Dalam landasan teori tidak perlu dibuat kerangka berfikir karena dalam penelitian kualitatif justru akan menemukan hipotesis.[17]
3.    Metode Penelitian
Meliputi pendekatan dan rancangan penelitian, kehadiran peneliti, sumber data, teknik pengumpulan data, pengecekan keabsahan data, serta tahapan-tahapan penelitian.[18]
a.       Teknik Pengumpulan Data
Secara umum, dalam penelitian kualitatif alat pengumpulan data yang peling sering digunakan adalah wawancara, pengamatan lapangan, dan telaah dokumen.[19]
b.      Instrument Penelitian
Dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrument utama adalah peneliti sendiri atau anggota tim peneliti. Sementara instrumen lainnya, yaitu buku catatan, tape recorder, kamera, dan sebagainya.[20]

c.       Sampel Sumber Data
Penentuan sampel sumber data, pada proposal masih bersifat sementara dan akan berkembang kemudian setelah peneliti di lapangan.[21]
d.      Teknik Analisis Data
      Analisis data dilakukan secara bersamaan dengan pengumpulan data. Proses analisis bersifat induktif yaitu mengumpulkan informasi-informasi khusus menjadi satu kesatuan.[22] Analisis data dilakukan secara terus menerus dari awal sampai akhir penelitian.[23] Analisis data melibatkan pengerjaan pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data, pencarian pola-pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan.
4.      Organisasi dan Jadwal Penelitian
5.      Biaya yang Diperlukan
6.      Daftar Pustaka







PENUTUP
Kesimpulan dari apa yang sudah dijabarkan adalah  Komponen-komponen Proposal Penelitian terdiri dari:
1.      Pendahuluan
2.      Masalah Penelitian
3.      Tujuan dan Kepentingan Penelitian
4.      Acuan Teori
5.      Subyek Penelitian
6.      Metode Penelitian
7.      Jadwal Kegiatan, Organisasi Pelaksanaan, dan Alokasi Dana
Sedangkan Proposal Penelitian Kuantitatif terdiri dari:
1.      Pendahuluan
a.       Latar Belakang Masalah
b.      Identifikasi Masalah
c.       Pembatasan Masalah
d.      Rumusan Masalah
e.       Tujuan Penelitian
2.      Kajian Kepustakaan
3.      Metode Penelitian
a.       Populasi dan Sampel
b.      Teknik pengumpulan data
c.       Instrument Penelitian
d.      Teknik Analisis Data
4.      Organisasi dan Jadwal Penelitian
5.      Biaya yang Diperlukan
6.      Daftar Pustaka

Dan proposal penelitian kualiotatif terdiri dari:
1.      Pendahuluan
a.       Latar Belakang Masalah
b.      Fokus Penelitian
c.       Rumusan Masalah
d.      Tujuan Penelitian
e.       Manfaat Penelitian
2.      Studi Kepustakaan
3.      Metode Penelitian
a.       Teknik Pengumpulan Data
b.      Instrument Penelitian
c.       Sampel Sumber Data
d.      Teknik Analisis Data
4.      Organisasi dan Jadwal Penelitian
5.      Biaya yang Diperlukan
6.      Daftar Pustaka








DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad 1993.Strategi Penelitian Pendidikan.Bandung: Angkasa.
Darmawan, Deni.2013.Metode Penelitian Kuantitatif.Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ghony, M.Djunaid, Fauzan Almanshur. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jogjakarta:Ar-Ruzz Media.
Hadjar, Ibnu.1999.Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan.Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Iskandar.2008.Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial Kuantitatif dan Kualitatif,.Jakarta: Gaung Persada Press.
Kurniawan, Benny.2012.Metodologi Penelitian.Tangerang Selatan: Jelajah Nusa.
Martono, Nanang.2011. Metode Penelitian Kuantitatif Analisis Isi dan Analisis Data Sekunder.Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Prastowo, Andi.2014. Metode Penelitian Kualitatif dalam Prespektif Rancangan Penelitian.Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Sarosa, Samiaji.2012.Penelitian Kualitatif ‘;Dasar-Dasar.Jakarta: Indeks.
Siregar, Syofian.2013. Metode Penelitian Kuantitatif Dilengkapi Perbandingan Perhitungan Manual & SPSS. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Subana & Sudradjat.2001. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah.Bandung: Pustaka Setia.
Sugiyono.2014.Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D.Bandung: Alfabeta.
Sugiyono.2014.Metode Penelitian Manajemen.Bandung, Alfabeta.
Tanzeh, Ahmad. 2011.Metodologi Penelitian Praktis.Yogyakarta: Teras.
Trianto.2010.Pengantar Penelitian Pendidikan bagi Pengembangan Profesi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan.Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Widi, Restu Kartiko.2010. Asas Metodologi Penelitian Sebuah Pengenalan dan Penuntun Langkah demi Langkah Pelaksanaan Penelitian.Yogyakarta: Graha Ilmu.
Zuriah, Nurul.2006.Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori-Aplikasi.Jakarta: BumiAksara.



                [1] Subana & Sudradjat, Dasar-dasar Penelitian Ilmiah, cet ke-1(Bandung: Pustaka Setia, 2001), hlm.49.
[2]Muhammad Ali, Strategi Penelitian Pendidikan,cet ke-10(Bandung:Angkasa,1993),hlm.95-97.
                [3] Restu Kartiko Widi, Asas Metodologi Penelitian Sebuah Pengenalan dan Penuntun Langkah demi Langkah Pelaksanaan Penelitian, cet ke-1(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), hlm. 277.
                [4] Benny Kurniawan, Metodologi Penelitian, cet ke-1(Tangerang Selatan: Jelajah Nusa, 2012), hlm. 38.
[5] Ibnu Hadjar, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan, cet ke-2(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 360.
                [6] Syofian Siregar, Metode Penelitian Kuantitatif Dilengkapi Perbandingan Perhitungan Manual & SPSS,cet ke-1(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), hlm. 119.
[7] Nanang Martono, Metode Penelitian Kuantitatif Analisis Isi dan Analisis Data Sekunder, cet ke-2(Jakarta: Raja Grafindo Persada, hlm. 134.
[8] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D, cet ke-20(Bandung: Alfabeta, 2014), hlm.385.
[9] Op.Cit., hlm. 135.
[10] Iskandar, Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial Kuantitatif dan Kualitatif, cet ke-1(Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), hlm. 169.
[11] Op.Cit., hlm. 137.
[12] Sugiyono. Metode Penelitian Manajemen, cet ke-3(Bandung, Alfabeta, 2014), hlm. 325.
                [13] Deni Darmawan, Metode Penelitian Kuantitatif, cet ke-1(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 219.
[14] M.Djunaid Ghony & Fauzan Almanshur, Metodologi Penelitian Kualitatif,cet ke-1(Jogjakarta:Ar-Ruzz Media ,2012),hlm.342.
[15]Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D, cet ke-20(Bandung: Alfabeta, 2014), hlm. 396.
[16] Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Prespektif Rancangan Penelitian, cet ke-3(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), hlm. 41.
                [17] Sugiyono, Op.Cit.,hlm 398-399.
                [18] Ahmad Tanzeh, Metodologi Penelitian Praktis, cet ke-1(Yogyakarta: Teras, 2011), hlm.104.
[19] Samiaji Sarosa, Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar, cet ke-1(Jakarta: Indeks, 2012), hlm.37
[20] Andi Prastowo, Op.Cit, hlm. 43.
[21]Sugiyono. Metode Penelitian Manajemen, cet ke-3(Bandung, Alfabeta, 2014), hlm. 454.
                [22] Trianto, Pengantar Penelitian Pendidikan bagi Pengembangan Profesi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, cet ke-1 (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hlm. 243.
[23] Nurul Zuriah. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori-Aplikasi, cet ke-1(Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm.109.