PROPOSAL PENELITIAN
A. Judul
Penelitian
Judul
penelitian ini adalah Pengaruh Penggunaan Media Audio Visualterhadap
Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII di SMPN 3 Warureja
B.
Latar
Belakang Masalah
Belajar merupakan
prosedur latihan sepanjang hayat.Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan
pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang,
sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku.[1]
Belajar dapat dilakukan kapan dan dimana saja, selagi kondisi dari sang
pembelajar selalu siap menerima pelajaran maka proses dari hakikat belajar itu
sendiri dapat terpenuhi.
Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajaradalah adanya
perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang mungkindisebabkan oleh
terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan (kognitif),keterampilan (psikomotor),
atau sikapnya (afektif).[2]Dalam pendidikan formal, prestasi belajar
siswa merupakan tolak ukur untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa
tersebut.Dan siswa akan benar-benar dikatakan berhasil dalam pembelajaran
apabila ia mampu menerapkan ilmu yang ia dapat dalam kehidupannya.
Pada
hakikatnya proses belajar mengajar adalah proses komunikasi, dalam komunikasi
sering timbul dan terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi
tersebut tidak efektif dan tidak efisien, antara lain disebabkan kurangnya
minat dan kurangnya kegairahan.[3]Komunikasi merupakan proses dimana ada pemberi informasi dan
penerima informasi.
Dalam pembelajaran, guru memiliki peran yang sangat penting.Yakni sebagai
sumber belajar.Tetapi dalam hal ini, tidak semua guru memenuhi spesifikasi atau
dapat diandalkan sebagai sumber belajar. Guru
terkadang tidak menerapkan atau mungkin tidak memahami teknik mengajar yang
sesuai dengan siswa atau mata pelajaran yang diampunya. Seperti guru yang
suaranya lemah atau minim dalam ilustrasi pembelajaran. Sehingga tujuan dari pembelajaran kurang
terealisasi.
Kondisi
dari setiap siswa pada saat menerima pelajaranpun tidak semuanya sama. Kondisi
yang seharusnya diharapkan siswa bisa siap dalam menerima pelajaran, terkadang
tidak terpenuhi karena dipengaruhi oleh banyak hal dalam diri siswa itu.Apalagi
bila penyampaian dari guru membuat siswa tidak tertarik, hal tersebut tentu
tidak memberi pengaruh positif pada diri siswa setelah pembelajaran.Di sinilah
seyogyanya guru bisa mengatasi masalah-masalah belajar yang ada pada setiap
diri siswa.Sehingga siswa bisa tertarik dan memperhatikan pelajaran yang
disampaikan.Kemudian pada akhirnya siswa sendiri
yang butuh pada pelajaran tersebut.
Saat
ini perkembangan teknologi sangat cepat dan sudah memasuki ranah pendidikan.Dengan
adanya teknologi ini, guru dapat menutupi kekurangannya dalam hal penyampaian
materi pada siswa.Untuk itu, guru harus mengetahui dan menguasai teknologi atau
alat-alat pelajaran yang tersedia.Alat pelajaran yang tersedia dapat disebut
sebagai media pembelajaran, karena sebagai perantara penyampaian informasi dari
guru kepada murid.
Salah
satu manfaat dari media pembelajaran adalah menjadikan materi pelajaran lebih
menarik.Ketika siswa tertarik dengan suatu mata pelajaran, maka ia akan
mempelajari pelajaran tersebut dengan tanpa beban sehingga hal ini memungkinkan
siswa untuk bisa berprestasi di mata pelajaran tersebut.Hamalik (1986)
mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar
dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan
rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis
terhadap siswa.[4]Dengan demikian media pembelajaran yang ada di lingkungan sekolah
dapat mengatasi masalah-masalah yang ada dalam proses belajar mengajar.
Pendidikan Agama
Islam diajarkan diseluruh sekolah umum di Indonesia.Materi dalam pelajaran
agama Islam sangatlah beragam.Tidak hanya dapat disampaikan secara verbalisme
atau hanya tulisan melalui media papan tulis, tetapi memerlukan berbagai macam
media untuk memenuhi tujuan pembelajarannya.Pendidikan agama Islam bukan hanya
menuntut pemahaman teori tetapi juga menuntut pemahaman prakteknya.
Untuk mendapatkan
pemahaman yang konkrit maka penyampaian dari pelajaran ini sendiri haruslah
memberikan pengalaman belajar yang mumpuni kepada para siswa.Salah satunya
dengan menggunakan media audio visual.Media audio visual menggabungkan antara
pengalaman belajar secara audio dan secara visual. Dengan cara memberikan
pengalaman belajar melalui indera mata dan telinga, tentunya pembelajaran akan
lebih optimal.
SMPN 3 Warureja
Tegal merupakan lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.Pelajaran Agama Islam merupakan salah satu mata pelajaran yang ada
di sekolah ini.Pendidikan Agama Islam hanya diberikan satu kali dalam satu
minggu dan hanya 2 jam saja. Hal ini berarti waktu belajar mata pelajaran ini
harus digunakan sebaik dan seefektif mungkin, sehingga dengan waktu yang
sedikit dapat menghasilkan sesuatu yang maksimal.
Keadaan yang
terjadi di lapangan saat ini, bahwasanya siswa belum bisa menerapkan
pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang telah diajarkan.Hal ini
mengindikasikan bahwasanya pembelajaran Pendidikan Agama Islam belum bisa
dipahami secara mendalam oleh siswa.Pemahaman yang kurang ini dipicu oleh
kurangnya pemanfaatan media pembelajaran yang seyogyanya memberi keefektifan
dalam penyampaian materi.Para pengajar masih dominan kepada verbalisme dalam
penyampaian materi, sehingga pemahaman siswa berbeda-beda tergantung daya nalar
dari masing-masing siswa.Dan juga penyampaian materi yang secara terus menerus
dengan verbalisme ini bisa membuat siswa menjadi bosan dan kurang tertarik
dengan pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Seiring dengan
perkembangan teknologi, media audio visual saat ini sudah tidak sulit
ditemui.Peneliti ingin mengetahui seberapa besar pengaruh dari media audio
visual ini terhadap prestasi siswa khususnya pada pembelajaran PAI.Untuk itu
peneliti tertarik mengambil judul “Pengaruh Penggunaan Media Audio Visualterhadap
Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII di SMPN 3 Warureja Tegal”.
C.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka peneliti dapat merumuskanmasalah sebagai berikut.
1.
Apakah
media audio visualdapat meningkatkan perhatian belajar Pendidikan Agama Islampada
siswa kelas VII di SMPN 3 Warureja Tegal?
2.
Apakah
melalui media audio visualdapat meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Agama
Islampada siswa kelas VII SMPN 3 WarurejaTegal ?
D.
Tujuan
Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1.
Mengetahui
pengaruh media audio visualterhadap perhatian belajar Pendidikan Agama Islam
siswa kelas VII di SMPN 3 Warureja Tegal.
2.
Mengetahui
pengaruh media audio visualterhadap peningkatan prestasi belajarPendidikan Agama Islam siswa kelas VII
di SMPN 3 Warureja Tegal.
E.
Kegunaan
penelitian:
1.
Secara
teoritis berguna terhadap hasil penelitian ini dapat memperkaya informasi yang
berupa pengetahuan baru
2.
Secara
praktis hasil penelitian dapat bermanfaat dalam mengatasi masalah yang ada pada
objek yang diteliti.
F.
Hipotesis
Penelitian
Hipotesis adalah
dugaan yang mungkin benar, atau mungkin salah.[5]
Sedangkan menurut Iskandar, hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara
terhadap masalah yang hendak dicari solusi pecahan melalui penelitian, yang
dirumuskan atas dasar pengetahuan, pengalaman dan logika yang kemudian akan
diuji kebenarannya melalui penelitian yang hendak dilakukan.[6]Berdasarkan pendapat tersebut, hipotesis yang peneliti
ajukan dalam penelitian ini adalah adanya pengaruh penggunaan media visual dan
audio terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas VII SMPN 3
Warureja Tegal.
G.
Tinjauan
Pustaka
Menurut
Lyle E. Bourne dan Bruce R. Ekstrand, belajar adalah perubahan tingkah laku
yang relatif tetap yang diakibatkan oleh pengalaman dan latihan.Sedangkan
menurut Cliford T. Morgan, belajar merupakan perubahan tingkah laku yang
relatif tetap yang merupakan hasil pengalaman yang lalu.[7]
Adapun
menurut Mustaqim dalam bukunya Psikologi
Pendidikan mengungkapkan bahwa prinsip-prinsip
belajar antara lain sebagai berikut:
1.
Belajar
akan berhasil jika disertai kemauan dan tujuan tertentu.
2.
Belajar
akan lebih berhasil jika disertai berbuat, latihan dan ulangan.
3.
Belajar
lebih berhasil jika memberi sukses yang menyenangkan.
4.
Belajar
lebih berhasil jika tujuan belajar berhubungan dengan aktivitas belajar itu
sendiri.
5.
Belajar
lebih berhasil jika bahan yang sedang dipelajari dipahami, bukan sekedar
menghafal fakta.
6.
Dalam
proses belajar memerlukan bantuan dan bimbingan orang lain.
7.
Hasil
belajar dibuktikan dengan adanya perubahan dalam diri si pelajar.
8.
Ulangan
atau latihan peru akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.[8]
Belajar merupakan aktivitas yang didorong oleh
berbagai faktor untuk mendukung keberhasilannya. Dalam bukunya yang berjudul
Psikologi Pendidikan, Sumardi Suryabrata menyebutkan faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar diantaranya adalah:
1.
Faktor yang berasal dari luar diri si pelajar,
dan ini masih digolongkan kedalam dua golongan lagi yakni faktor non sosial dan
faktor sosial.
2.
Faktor yang berasal dari dalam diri si
pelajar, dan inipun masih digolongkan menjadi dua golongan yaitu faktor
fisiologis dan faktor psikologis.[9]
Diantara faktor yang berasal dari luar diri si
pelajar adalah faktos non sosial. Dalam faktor non sosial meliputi keadaan
udara, suhu udara, cuaca, waktu belajar,tempat belajar, alat-alat yang
digunakan untuk belajar(seperti alat tulis menulis, buku-buku, alat-alat
peraga).Di sini dijelaskan, bahwasanya alat peraga (media) menjadi salah
satu faktor yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
Dalam bukunya yang berjudul Media
Pendidikan, Azhar Arsyad menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab, media adalah
perantara (وسائل) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima
pesan. Gerlach dan Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami
secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi
yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap.Secara
lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung
diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk
menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.[10]
Sebuah
media yang didalamnya mengandung pesan-pesan pengajaran maka media itu disebut
media pembelajaran. Hamalik (1986) melihat hubungan komunikasi akan berjalan
lancar apabila menggunakan alat bantu. Gagne dan Briggs (1975) secara implisit
mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan
untuk menyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri dari antara lain buku,
tape recorder, kaset, video camera, video recorder, film slide, foto, gambar,
grafik, televisi, dan komputer. Dengan kata lain, media adalah komponen sumber
belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan
siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.[11]
Wina Sanjaya dalam bukunya yang berjudul Media
Komunikasi Pembelajaran, menyebut media jika dilihat dari sifatnya, dibagi
kedalam:
1. Media auditif, yaitu media yang hanya dapat didengar saja, atau media yang
hanya memiliki unsur suara, seperti tape recorder, radio, kaset, piringan hitam
da rekaman suara.
2. Media visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat saha, seperti foto, film
slide, transparansi, lukisan, gambar, dan berbagai bentuk bahan yang dicetak.
3. Media audio visual, yaitu jenis media yang mengandung unsur suara dan juga
unsur gambar. Seperti rekaman video, berbagai ukuran film, slide suara dan lain
sebagainya. Kemampuan media ini dianggap lebih baik dan lebih menarik, sebab
mengandung kedua unsur jenis media yang pertama dan kedua.[12]
Sudarwan Danim dalam bukunya yang berjudulMedia
Komunikasi Pendidikan menuliskan bahwa belajar merupakan suatu proses yang
berlangsung secara kontinu. Pemahaman merupakan unsur penting dalam belajar,
jika mahasiswa benar-benar memahami setiap materi pelajaran, mereka akan siap
memberi jawaban atas pertanyaan dalam belajar(Sardiman, 1986). Dalam hal ini,
pemahaman diartikan sebagai kecepatan kemampuan dalam memahami setiap
materi pelajaran, ia akan secara cepat pula menyelesaikan studinya, serta akan
mampu menapai prestasi belajar optimal.[13]
Lia Farchah dalam skripsinya yang berjudul
Pengaruh Penggunaan Media Gambar pada Pembelajaran Fiqih terhadap Prestasi
Belajar Peserta Didik di MI Walisongo Pajomblangan 02 Kedungwuni Pekalongan
menyebutkan bahwa dalam proses pembelajaran, hasil belajar sangat dipengaruhi
oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah instrumental input atau
faktor-faktor yang disengaja dirancang dan dimanipulasi untuk pembelajaran
seperti sarana atau fasilitas belajar.[14]
H.
Kerangka
Teori
Menurut Lyle E. Bourne dan Bruce R. Ekstrand, belajar adalah
perubahan tingkah laku yang relatif tetap yang diakibatkan oleh pengalaman dan
latihan. Pasti dibutuhkan pendukung untuk menunjang proses belajar itu sendiri.
Salah satu faktor yang mempengaruhi belajar adalah adanya alat yang digunakan
atau alat pembelajaran. Alat pembelajaran menjadi salah satu faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar seseorang karena alat pembelajaran memberikan
lebih banyak pengalaman belajar. Dengan banyaknya pengalaman belajar maka akan
semakin banyak pula perubahan tingkah laku yang diharapkan dari hasil belajar.
Media audio visual memberikan banyak
pengalaman belajar dengan memfokuskan pada alat indera. Yang mana dengan
penggunaan media audio visual ini pengalaman belajar yang diterima siswa yakni
melalui mata dan telinga. Dengan begitu siswa akan lebih mengingat apa yang ia
pelajari. Berarti dapat dibuat kerangka berpikir asosiatif atau hubungan yakni
jika dalam pembelajaran penggunaan media audio visual maksimal maka prestasi
belajar siswa akan meningkat.
I.
Metode
Penelitian
1.
Pendekatan
dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis
penelitian survei.Metode penelitian survei adalah metode penelitian yang dilakukan
pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari
sampel yang diambil dari populasi tersebut, untuk menemukan kejadian-kejadin
relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan antar variabel sosiologis maupun
psikologis.[15]
2.
Populasi
dan Sampel Penelitian
Populasi
adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Sedangkan sampel adalah bagian dari
jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi.[16]Dalam
penelitian ini populasinya adalah seluruh siswakelas VII SMPN Warureja Tegal
yang berjumlah 203. Maka untuk sampel penelitian, peneliti akan mengambil 25%
dari 203 yang berarti sampelnya adalah 52. Menurut Suharsimi Arikunto, apabila
subjek kurang dari 100, lebih baik diambilsemua. Selanjutnya apabila jumlah
populasi besar atau lebih dari 100 dapat diambil 10% – 15% atau 20% – 25% atau
lebih[17]
3. Teknik
Pengumpulan Data
Adapun
metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah :
a. Metode Observasi. Metode observasi adalah cara pengambilan data dengan
menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan
tersebut.[18]
Peneliti mengamati keadaan sarana dan prasarana yang ada di SMPN 3 Warureja
Tegal.
b. Metode Dokumentasi. Peneliti menggunakan metode ini, karena
variable dependent (prestasi belajar PAI) dapat dikumpulkan dan diidentifikasi
dengan cara mengambil nilai pelajaran PAI siswa kelas VII di SMPN 3 Warureja Tegal.
c. Metode Menggunakan kuesioner (angket). Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data
yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan
tertulis kepada responden untuk dijawabnya.[19]
Metode ini digunakan untuk memperoleh data mengenai penggunaan media audio
visual pada pembelajaran PAI di SMPN 3 Warureja Tegal.
3.
Teknik
Analisis Data
Menggunakan korelasi product moment. Korelasi product moment
digunakan untuk menguji hipotesis hubungan antara satu variabel independent
dengan satu dependent.[20]
Setelah ketemu Rxy langkah selanjutnya mencari R kuadrat, kemudian setelah
ketemu R2 langkah selanjutnya R2 dikalikan 100, maka akan
ketemu seberapa (dalam %) pengaruh penggunaan media audio visual terhadap
prestasi belajar PAI siswa kelas VII SMPN 3 Warureja Tegal. Adapun rumus
korelasi product moment adalah sebagai berikut.
rxy=
Untuk
memudahkan menginterpretasikan data yang diperoleh, Sarwono memberikan kriteria
sebagai berikut:
1. Koefisien
korelasi 0 = tidak
ada korelasi antara dua variabel.
2. Koefisien
korelasi 0 – 0,25 = korelasi
sangat lemah.
3. Koefisien
korelasi 0,25 – 0,5 = korelasi
cukup.
4. Koefisien
korelasi 0,5 – 0,75 = korelasi
kuat
5. Koefisen
korelasi 0,75 – 0,99 = korelasi
sangat kuat.
Daftar Pustaka
Arikunto,Suharsimi. 2002.Prosedur
Penelitian SuatuPendekatan Praktek. Jakarta:
PT.Rineka Cipta.
Arsyad,Azhar.Media Pembelajaran.2005.Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Danim, Sudarwan.1995. Media Komunikasi Pendidikan.
Jakarta: Bumi Aksara.
Farchah, Lia. Pengaruh Penggunaan Media
Gambar pada Pembelajaran Fiqih terhadap Prestasi Belajar Peserta Didik di MI
Walisongo Pajomblangan 02 Kedungwuni Pekalongan. Pekalongan: Skripsi STAIN
Pekalongan.
Fauzi, Muchamad. 2009.Metode Penelitian
Kuantitatif. Semarang: Walisongo Press.
Hadi,SutrisnoMetodologi Research. 1995.Yogyakarta: Andi
Offset.
Iskandar. 2008.Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial
(Kuantitatif danKualitatif).Jakarta: Gaung Persada Press.
Mustaqim.2008.Psikologi Pendidikan.Semarang: Pustaka
Pelajar.
Sanjaya,Wina.2010.Kurikulum
dan Pembelajaran.Jakarta: Prenada Media Group.
Sanjaya, Wina. 2012. Media Komunikasi
Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kombinasi
(Mixed Methods). Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, Nana Syaodih.2010. Landasan Psikologi Proses
Pendidikan.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Suryabrata, Sumadi.1995. Psikologi
Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar