BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Belajar merupakan
hal yang sangat erat sekali kaitannya dengan kehidupan manusia. Semua
pengetahuan, sikap, keterampilan diubah dan dibentuk melalui belajar. Belajar
dapat terjadi dimana pun dan kapan pun. Apakah itu di rumah, di sekolah, di pasar, di masyarakat
dan dapat terjadi apakah itu pada pagi hari, siang, sore, ataupun malam hari
sekalipun. Sejak membuka mata sampai menutup mata manusia tidak pernah lepas
dari yang namanya belajar. Oleh karena itu, kemajuan peradaban yang ada
sekarang ini pastilah karena manusia melakukan kegiatan belajar itu sendiri.
Bisa dibayangkan bila manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengubah diri atau
belajar, pastilah keadaan kita akan tetap sama dari masa ke masa. Tapi untunglah
kita sebagai manusia dibekali akal oleh Tuhan sehingga dengan akal tersebut
kita dapat berpikir, yang mana dengan adanya berpikir tersebut maka kita dapat
belajar.
Namun, belajar
yang akan kita bahas di sini adalah belajar yang dilakukan dengan sengaja.
Seperti belajar di sekolah. peserta didik memiliki kemampuan dan latar belakang
yang berbeda-beda yang menyebabkan hasil belajar antara manusia yang satu
dengan yang lainnya berbeda. Hal ini pastilah dipengaruhi oleh sebab-sebab
tertentu. Yang mana sebab-sebab tersebut bila dimengerti kekurangan dan
kelebihannya maka akan sangat menunjang peningkatan kualitas belajar yang mana
harapannya akan terjadi peningkatan pada hasil belajar.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Belajar
a.
Bagaimana
definisi belajar menurut para pakar ?
b.
Fase-fase
apa saja yang terjadi dalam belajar ?
c.
Hal
apa saja yang berkaitan dengan belajar ?
2.
Apa
saja faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ?
C.
Metode
Pemecahan Masalah
Metode
pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur atau metode kajian
pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi
lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan
masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan
perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan
tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber dan
penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.
D.
Sistematika
Penulisan Makalah
Makalah
ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi: Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri
dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah dan
sistematika penulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III bagian
penutup yang terdiri dari kesimpulan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Belajar
1.
Definisi
Belajar
Skinner, seperti yang
dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Education Psychology: The
Teaching-Learning Process, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses
adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.
Chaplin dalam Dictionary
of Psychology membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama
yakni belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap
sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan kedua yakni belajar ialah proses
memperoleh respon sebagai akibat adanya latihan khusus.
Hintzman dalam bukunya
The Psychology of Learning and Memory berpendapat bahwa belajar adalah
suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan
oleh pengalaman tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi
organisme.
Dalam penjelasan
selanjutnya, pakar psikologi belajar itu menambahkan bahwa pengalaman hidup
sehari-hari dalam bentuk apapun sangat memungkinkan untuk diartikan sebagai
belajar.
Wittig dalam bukunya Psychology
of Learning mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relatif menetap
yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme
sebagai hasil pengalaman.[1]
Reber dalam Dictionary
of Psychology membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar
yakni proses memperoleh pengetahuan. Kedua, belajar yaitu suatu perubahan
kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.
Timbulnya
keanekaragaman pendapat para ahli tersebut di atas adalah fenomena perselisihan
yang wajar karena adanya perbedaan titik pandang. Bertolak dari berbagai
definisi yang telah diutarakan tadi, secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah
laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi
dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Sehubungan dengan pengertian
itu perlu diutarakan lagi bahwa perubahan tingkah laku yang timbul akibat
proses kematangan, keadaan gila, mabuk, lelah, dan jenuh tidak dapat dipandang
sebagai proses belajar.
Menurut pengertian
secara psikologi, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan di
dalam tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya.[2]
2.
Fase-Fase
dalam Belajar
Menurut Jerome S.
Bruner, dalam proses pembelajaran siswa menempuh tiga episode atau fase.
a.
Fase
informasi (tahap penerimaan materi).
b.
Fase
transformasi (tahap pengubahan materi).
c.
Fase
evaluasi (tahap penilaian materi).
Dalam fase informasi,
seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai
materi yang sedang dipelajari. Di antara informasi yang diperoleh itu ada yang
sama sekali baru dan berdiri sendiri ada pula yang berfungsi menambah,
memperhalus, dan memperdalam pengetahuan yang sebelumnya telah dimiliki.
Dalam fase
transformasi, informasi yang diperoleh itu dianalisis, diubah, atau
ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual. Bagi siswa
pemula, fase ini akan berlangsung lebih mudah apabila disertai bimbingan guru.
Dalam fase evaluasi,
seorang siswa akan menilai sendiri sampai sejauh manakah pengetahuan informasi
yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala
lain atau memecahkan masalah yang dihadapi.[3]
3.
Ciri
Khas Perilaku Belajar
a.
Perubahan
Intensional
Perubahan yang terjadi
adalah berkat praktik yang dilakukan dengan sengaja dan bukan kebetulan. Selain
itu, si pembelajar juga juga menghendaki perubahan yang disadari, juga
diarahkan pada tercapainya perubahan tersebut.
b.
Perubahan
Positif dan Aktif
Positif artinya
perubahan tersebut merupakan penambahan sesuatu yang baru dan keterampilan yang
lebih baik. Adapun aktif berarti terjadi karena usaha siswa itu sendiri, ini
berarti bahwa perubahan itu bukan terjadi karena faktor kematangan yang ada
pada diri individu.[4]
c.
Perubahan
Efektif dan Fungsional
Efektif artinya
perubahan tersebut membawa manfaat tertentu bagi siswa. Adapun fungsional yakni
dapat memberi manfaat yang luas. Selain itu, perubahan efektif dan fungsional biasanya
bersifat dinamis dan mendorong timbulnya perubahan-perubahan positif lainnya.[5]
B.
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Belajar
Ada dua faktor yang
mempengaruhi seorang siswa dalam prestasi belajarnya, kedua faktor inilah yang
menjadi penyebab seorang peserta didik berprestasi tinggi, berprestasi rendah,
atau gagal sama sekali. Faktor-faktor tersebut dapat kita bedakan diantaranya.
1.
Faktor
Internal Siswa
Faktor yang berasal
dari dalam diri siswa sendiri, meliputi dua aspek, yakni: (a) aspek fisiologis;
(b) aspek psikologis.
a.
Aspek Fisiologis
· Keadaan Tonus Jasmani pada Umumnya
Keadaan jasmani yang
segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar. Kondisi
organ tubuh lemah, apalagi disertai pusing-pusing kepala misalnya, dapat
menurunkan kualitas belajar sehingga materi yang dipelajaripun kurang atau
tidak membekas. Dalam hubungan dengan hal ini ada dua hal yang perlu
dikemukakan.
(1)
Nutrisi
harus cukup karena kekurangan kadar makanan ini akan mengakibatkan kurangnya
tonus jasmani yang pengaruhnya daoat berupa kelesuan, lekas mengantuk, lekas
lelah, dn sebagainya.
(2)
Beberapa
penyakit kronis sangat menggangu belajar itu seperti pilek, influenza, sakit
gigi, batuk dan sejenisnya dengan itu biasanya diabaikan karena dipandang tidak
cukup serius untuk mendapatkan perhatian dan pengobatan. Akan tetapi dalam
kenyataannya penyakit-penyakit semacam ini sangat mengganggu aktivitas belajar
itu.[6]
· Keadaan Fungsi Pancaindera
Pancaindera dapat
dimisalkan sebagai pintu gerbang masuknya pengaruh ke dalam individu. Kesehatan
indera pendengar dan indera penglihat, juga mempengaruhi kemampuan siswa dalam
menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan di kelas.
b.
Aspek
Psikologis
a)
Intelegensi
Siswa
Semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin
besar peluangnya untuk meraih sukses dalam belajar.
b)
Sikap
Siswa
Sikap adalah gejala internal berupa kecenderungan untuk bertindak
terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun
negatif. Sikap belajar berkaitan denga pandangan siswa terhadap guru-guru,
tingkah laku mereka di kelas, cara mengajar,tujuan yang akan dicapai, materi
yang disajikan, praktik, tugas, dan persyaratan yang ditetapkan sekolah. Sikap
belajar siswa akan berwujud dalam bentuk perasaan senang atau tidak senang,
setuju atau tidak setuju terhadap hal-hal tersebut. Sikap belajar positif
berkaitan erat dengan minat dan motivasi . Oleh karena itu, siswa yng sikap
belajarnya positif akan belajar lebih aktif dan demikian akan memperoleh hasil
yang lebih baik dibandingkan siswa yang sikap belajarnya negatif.[7]
c)
Bakat
Siswa
Bakat adlaah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk
mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Bakat dapat mempengaruhi
tinggi-rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu.
d)
Minat
Siswa
Minat berarti kegairahan yang tinggi terhadap sesuatu. Minat dapat
mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang studi
tertentu. Minat yang telah disadari terhadap bidang pelajaran, mungkin sekalia
akan menjaga pikiran siswa, sehingga dia bisa menguasai pelajarannya. Pada
gilirannya, prestasi yang berhasil akan menambah minatnya, yang berlanjut
sepanjang hayat.
e)
Motivasi
Siswa
Motivasi yakni keadaan yang mendorong individu untuk berbuat
sesuatu. Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu motivasi intrinsik
dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik
adalah keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat
mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi intrinsik
siswa adalah perasaan menyenangi materi atau kebutuhannya terhadap materi
tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan. Adapun
motivasi ekstrinsik dapat berupa pujian dan hadiah, tata tertib sekolah, suri
tauladan orangtua, guru, dan seterusnya.
2.
Faktor
Eksternal Siswa
Faktor eksternal siswa
terdiri atas tiga macam, yakni: faktor lingkungan, faktor instrumental, dan
faktor
a.
Faktor
Lingkungan
a)
Lingkungan
Alami
Yaitu kondisi alam
yang dapat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar, seperti: cuaca (suhu
udara, mendung, hujan, kelembaban), waktu (pagi, siang, sore, petang, malam), musim
yang sedang berlangsung, termasuk kejadian alam yang ada.[8]
b)
Lingkungan
Sosial
Lingkungan sosial sekolah seperti para guru,
para staf administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat
belajar seorang siswa. Selanjutnya, lingkungan sosial tempat tinggal siswa
seperti masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan disekitar
perkampungan siswa tersebut tinggal.
c)
Lingkungan
Non-sosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan
nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga
siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang
digunakan siswa. Letak sekolah misalnya harus memenuhi syarat-syarat seperti di
tempat yang tidak terlalu dekat kepada kebisingan atau jalan ramai, lalu
bangunan itu harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan dalam ilmu
kesehatan sekolah. demikian pula alat-alat pelajaran harus seberapa mungkin
diusahakan untuk memenuhi syarat-syarat menurut pertimbangan didaktis,
psikologis dan paedagogis.[9]
b.
Faktor
Instrumental
Faktor instrumental
adalah faktor yang adanya dan pengujiannya dirancang sesuai dengan hasil
belajar yang diharapkan. Faktor inilah yang dapat dimanipulasi untuk mencapai
tujuan belajar yang telah dirancang. Faktor instrumental antara lain sebagai
berikut.
a)
Bahan
Pelajaran
· Panjangnya Bahan Pelajaran
Semakin panjang bahan
pelajaran, semakin panjang pula waktu yag diperlukan .bahan ajar yang terlalu
panjang atau terlalu banyak dapat menyebabkan kesulitan individu dalam belajar.
Kesulitan belajar individu itu berhubungan dengan faktor kelelahan serta
kejemuan si pelajar dalam menghadapi atau mengerjakan bahan yang banyak itu.
· Kesulitan Bahan Pelajaran
Setiap bahan pelajaran
mengandung tingkat kesulitan bahan pelajaran dan mempengaruhi kecepatan
belajar. Makin sulit sesuatu bahan pelajaran, makin lambatlah orang
mempelajarinya, begitupun sebaliknya. Bahan yang sulit memerlukan aktivitas
belajar yang lebih intensif, sedangkan bahan yang sederhana mengurangi
intensitas belajar seseorang.
· Berartinya Bahan Pelajaran\
Bahan yang berarti
adalah bahan yang dapat dikenali. Bahan yang berarti memungkinkan individu
untuk belajar, karena individu dapat mengenalnya. Belajar memerlukan modal
pengalaman yang diperoleh dari belajar di waktu sebelumnya. Modal pengalaman
itu menentukan keberartian daripada bahan yang dipelajari diwaktu sekarang.
Bahan yang berarti adalah bahan yang dapat dikenali. Bahan yang tanpa arti
sukar dikenal, akibatnya tak ada pengertian individu terhadap bahan itu.[10]
b)
Guru
dan Cara Mengajar
Faktor guru dan cara
mengajarnya merupakan faktor penting pula. Bagaimana sikap dan kepribadian
guru, tinggi rendahnya pengetahuan yang dimiliki guru, dan bagaimana cara guru
itu mengajarkan pengetahuan itu kepada anak didiknya, turut menentukan
bagaimana hasil belajar yang dapat dicapai anak. Seorang guru yang memandang profesi guru
adalah panggiln jiwa, akan melahirkan perbuatan untuk melayani kebutuhan anak
didik dengan segenap jiwa raga.
c)
Sarana
dan Prasarana
Sarana adalah seluruh inventaris lembaga berupa
gedung dan ruang-ruang yang mendukung proses kegiatan belajar mengajar. Sekolah
yang cukup memiliki alat-alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar
ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam
menggunakan alat-alat itu, akan mempermudah dan mempercepat belajar anak.[11]
Sarana mempunyai arti penting dalam
pendidikan. Suatu sekolah yang mengalami kekurangan
dalam sarana,akan menemui banyak masalah. Sehingga kegiatan belajar mengajar
menjadi kurang kondusif. Selain masalah sarana, fasilitas kelengkapan skolah
juga tidak dapat diabaikan.
Fasilitas atau prasarana itu meliputi buku ajar siswa, alat peraga dan lain-lain. Lengkap tidaknya
fasilitas suatu sekolah, menentukan kualitas anak didik. Masalah yang anak didik hadapi relative
kecil,apabila fasilitas suatu sekolah memadai.[12]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kita dapat
mengetahui seseorang telah belajar, adalah dari perubahan tingkah lakunya. Maka
belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku ke arah yang lebih
baik. Yang mana dengan adanya perubahan tingkah laku tersebut seorang individu dapat
mengubah dirinya dan bermanfaat untuk lingkungan di sekitarnya. Walaupun
terdapat kesamaan dalam proses belajarnya, namun hasil dari belajar tersebut
untuk setiap orang berbeda-beda. Hal tersebut karena dipengaruhi oleh
faktor-faktor yang berasal dari dalam maupun dari luar diri tersebut. Bila
faktor-faktor tersebut diketahui sedini mungkin, maka akan bisa mengatasi
kondisi belajar dari setiap siswa yang bersangkutan. Yang mana harapannya akan
tercapai hasil maksimal dalam belajar untuk siswa yang bersangkutan.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono.1991.Psikologi Belajar.Jakarta:
Rineka Cipta.
Djaali.2013.Psikologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Islamuddin,Haryu.2012. Psikologi Pendidikan.Jember: Pustaka
Pelajar.
Purwanto, M. Ngalim.2003.Psikologi Pendidikan.Bandung:
Remaja Rosdakarya Offset.
Soemanto, Wasty.1998.Psikologi Pendidikan Landasan Kerja
Pemimpin Pendidikan.Jakarta: Rineka Cipta.
Suryabrata, Sumadi.2002.Psikologi Pendidikan.Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Syah, Muhibbin.1999.Psikologi Pendidikan.Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Syaiful, Bahri.
2011.Psikologi Belajar.
Jakarta: Rineka Cipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar