Kamis, 19 Mei 2016

Sejarah Pendidikan Islam di Spanyol


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
            Sejak pertama kali Islam menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan peran yang sangat besar. Masa itu berlangsung sekitar tujuh setengah abad  (711-1429 M). Perjalanan panjang Eropa sampai pada masa Renassance tidak dapat dipisahkan dari peran Islam saat menguasai Spanyol. Ketika Islam mencapai masa keemasannya, kota Kordoba dan Granada di Spanyol merupaka pusat-pusat peradaban Islam yang sangat penting kala itu menyaingi Baghdad. Orang-orang Kristen, Yahudi maupun Katolik kala itu berlomba-lomba belajar di perguruan-perguruan tinggi Islam di sana. Islam menjadi guru bagi orang Eropa.
            Kegemilangan pendidikan yang diperkenalkan dunia Islam di Spanyol dari abad VI sampai X telah menyadarkan Barat akan ketertinggalannya selama ini. Kedatangan Islam di Spanyol telah membawa perubahan yang sangat besar, terutama di bidang sosial dan ilmu pengetahuan serta kebudayaan. Perkembangan peradaban Spanyol Islam terbentuk bukan hanya karena sentuhan dari tradisi Arab-Islam, akan tetapi lebih dari itu karena akibat persentuhan peradaban yang di bawa oleh Arab-Islam dengan kebudayaan masyarakat. Semua ini tidak terlepas dari kepiawaian dan dukungan dari penguasa dalam memajukan ilmu pengetahuan dan tingginya motivasi umat Islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Sehingga dalam waktu singkat Spanyol berubah menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam di belahan barat.
           
B.       Rumusan Masalah
1.         Bagaimana pengaruh Islam di Spanyol ?
2.         Bagaimana perkembangan pendidikan Islam di Spanyol ?
3.         Bagaimana pertumbuhan lembaga pendidikan Islam di Spanyol ?
4.         Bagaimana eksistensi masjid dan perpustakaan pada masa Islam di Spanyol ?
5.         Gerakan penerjemahan dan pengembangan ilmu pengetahuan di Spanyol ?

C.       Metode Pemecahan Masalah
            Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur atau metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumberdan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.

D.      Sistematika Penulisan Makalah
            Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi: Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah dan sistematika penulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III bagian penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran-saran.











BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengaruh Islam di Spanyol
            Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid (705-715), salah seorang khalifah dari dinasti Umayyah II yang berpusat di Damaskus. Ada tiga nama yang berjasa dalam penaklukan Spanyol, mereka diantaranya Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad, dan Musa bin Nusair. Dari ketiga nama tersebut, Thariq bin Ziyad lah yang paling dikenal karena berhasil menaklukan kota-kota penting Spanyol seperti: Cordova, Granada, dan Toledo. Yang berhasil ditaklukan pada tahun 93 H (711M) dibawah pimpinan Tariq bin Ziyad bersama 7000 tentara kemudian ditambah 5000 tentara.
            Islam memainkan peranan yang besar baik dalam bidang kemajuan untelektual (fikih, sains, filsafat, musik, dan kesenian, bahasa dan sastra), kemegahan bangunan fisik (Cordoba dan Granada). Sejarah panjang yang dilalui umat Islam Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu:
1.      Periode Pertama (711-755 M)
      Pada periode ini stabilitas politik Spanyol belum tercapai secara sempurna gangguan masih terjadi baik yang datang dari luar maupun dari dalam. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan diantara elit penguasa. Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol, gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500 tahun akhirnya mereka mampu diusir dari bumi Spanyol.
2.      Periode Kedua (755- 912 M)
      Pada periode ini umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan baik dalam bidang politik maupun bidang peradaban. Pada periode ini di pimpin oleh Abdurrahman Ad-Dakhil yang mendirikan Masjid Cordova dan sekolah -sekolah di kota besar Spanyol kemudian ada juga penguasa lainnya yaitu Hisyam I yang di kenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam dan ada juga Hakam I yang dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran.[1]
3.      Periode Ketiga (912-1013 M)
      Pada periode ini berlangsung ketika Abdurrahman An-Nasir memimpin. beliau mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan buku. Pada masa ini masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat.
4.      Periode Keempat (1013-1086 M)
      Pada periode ini Spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negara kecil yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya Abbadiyah di Seville. Pada periode ini umat Islam kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya bila terjadi perang saudara ada diantara pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Karena hal tersebut, orang-orang Kristen mulai mengambil inisiatif penyerangan.
5.      Periode Kelima (1086-1248 M)
      Pada periode ini terdapat satu kekuatan yang dominan yaitu kekuasaan dinasti Murabithun (1086-1143 M) dan dinasti Muwahhidun (1146-1235 M). Dinasti Murabithun yang mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf bin Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Dan akhirnya dapat memasuki Spanyol dan menguasainya. Dalam perkembangan selanjutnya, pada periode ini kekuasaan Islam Spanyol dipimpin oleh penguasa-penguasa yang lemah sehingga mengakibatkan beberapa wilayah Islam dapat dikuasai oleh kaum Kristen. Pada tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Sevilla jatuh pada tahun 1248 M. Hampir seluruh wilayah Spanyol Islam lepas dari tangan penguasa Islam.[2]
6.      Periode Keenam (1248-1492 M)
      Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada dibawah Dinasti Ahmar. Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti dizaman Abdurrahman An-Nasir. Namun secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah kecil. Pada periode ini adalah akhir dari eksistensi umat Islam di Spanyol.[3] Menurut Prof. Harun Nasution sekitar tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini.(Harun Nasution, 1985: 62).

B.       Perkembangan Pendidikan Islam di Spanyol
            Perkembangan pendidikan Islam di Spanyol tidak terlepas dari berbagai faktor yang melatarbelakanginya. Baik itu faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal dalam hal ini adalah faktor ajaran Islam sebagai motivasi, nilai, dan doktrin, yang terakumulasi dalam Qur’an (lihat diantaranya QS. 13:11, 6:38, 36:36) dan Al-Hadits (lihat hadits-hadits tentang keutamaan menuntut dan mentransfer ilmu), merupakan pendorong utama dalam memajukan pendidikan Spanyol Islam.[4]
            Sedangkan faktor eksternal, merupakan faktor yang berhubungan dengan upaya kaum muslimin Spanyol dalam menciptakan kultur Islam dalam bentuk peradaban. Faktor tersebut diantaranya.
1.      Faktor kekuasaan. Faktor ini berbentuk kebijaksanaan penguasa Umayah II dan penguasa kecil lainnya. Mereka memberikan dukungan sangat kuat dalam pengembangan pendidikan Spanyol Islam yang meliputi sumbangan dana dan fasilitas fisik demi menunjang pengembangan pendidikan. Tidak hanya itu, mereka juga memberikan sumbangan moril dengan menempatkan para ilmuwan pada posisi yang tinggi atau sikap positif penguasa dalam pengembangan pendidikan: tingginya minat dalam menuntut ilmu atau dalam mengumpulkan buku-buku bagi kepentingan umat.
2.      Faktor akademis. Faktor ini mencakup munculnya lembaga pendidikan di Spanyol yang memiliki saham yang sukup besar dalam menstimuli kaum muslimin untuk mengembangkan pendidikan dan mengadakan riset. Islam mampu menjadikan dirinya sebagai agent of social change, bukan sebagai lembaga yang mempolitisir pendidikan untuk kepentingan golongan tertentu belaka.
3.      Faktor kompetisi positif yang ditujukan umat Islam dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Dimensi ini memberikan nuansa, bahwa ketika mereka berlomba-lomba mengembangan ilmu pengetahuan, akan tetapi mereka masih menjaga kode etik dan harmonisasi hubungan pentransferan ilmu pengetahuan. Hal ini ditujukan kepada hubungan rival antara Abbasiyah (Baghdad) dan Umayyah II (Spanyol).[5]
4.      Faktor toleransi antar Islam dan non Islam. Mereka saling berlomba untuk dapat menguasai ilmu pengetahuan. Kondisi kondusif ini memperkaya khazanah ilmu pengetahuan di Spanyol. Spanyol pada masa Islam tidak mendeskriditkan (melemahkan kewibawaan) umat non-Islam

C.       Pertumbuhan Lembaga Pendidikan Islam di Spanyol
1.      Kuttab
      Pada tempat pendidikan Kuttab ini para siswa mempelajari beberapa bidang studi dan pelajaran-pelajaran yang meliputi fiqih, bahasa&sastra, serta musik dan kesenian.

a.       Fiqih
            Dalam bidang fiqih, karena Spanyol menganut madzab Maliki, maka para ulama memperkenalkan materi-materi fiqih dari madzab Maliki. Para ulama yang memperkenalkan mazhab ini antara lain Ziyad ibn Abd Al-Rahman, Abu Bakr ibn Al-Quthiyah, Munzir ibn Said Al-Baluthi dan Ibn Hazm.
b.      Bahasa dan Sastra
            Karena bahasa Arab telah menjadi bahasa resmi dan bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol, maka Bahasa Arab ini diajarkan baik kepada anak-anak Islam maupun non-Islam. Mereka juga banyak yang mahir dalam bahasa Arab, sehingga mereka terampil dalam berbicara dan tata bahasa. Mereka antara lain ialah Ibnu Malik, Ibn Sayyidih, Ibn Khuruf, Ibn Al-Hajj, Abu Ali Al-Isybili, Abu Al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan Al-Garnathi.
c.       Musik dan kesenian
            Sya’ir merupakan ekspersi utama dari perdaban Spanyol. Pada dasarnya sya’ir Spanyol didasarkan pada model-model sya’ir Arab. Dalam bidang musik dan seni, Spanyol Islam memiliki tokoh yang sangat terkenal, yaitu Al-Hasan ibn Nafi (Ziryab).
2.      Madrasah
      Menurut keterangan Mahmud Yunus, dalam bukunya Dr. Muhammad Hambal Shafwan, bahwa ketika umat Islam berkuasa di Andalus (Spanyol) mereka telah mendirikan madrasah yang tidak sedikit jumlahnya guna menopang pengembangan pendidikannya. Madrasah-madrasah itu tersebar di seluruh daerah kekuasaan Islam, antara lain : Qurthubah (Cordova), Isybilah(Sevile), Thulaithilah(Toledo), Gharnathan(Granada) dan lain sebagainya.

3.      Perguruan Tinggi
      Guna melakukan sosialisasi ilmu pengetahuan lebih lanjut, khalifah Abdul Rahman III mencoba merintisnya dengan mendirikan Universitas Cordova sebagai pusat ilmu pengetahuan. Universitas ini mengambil di sebuah masjid. Pada masa pemerintahan Al-Hakam II (961-976 M), universitas tersebut diperluas lokasinya dan bahkan mendatangkan para profesor dari Timur(Al-Azhar dan Nizamiyah) sebagai dosen undangan untuk memberikan perkuliahan di sana.[6] Ia juga menyediakan berbagai fasilitas untuk menunjang kelancaran proses pendidikan, terutama bagi tenaga guru yang didatangkan dengan menyediakan berbagai hadiah untuk gaji atau honorer mereka.
D.      Eksistensi Masjid dan Perpustakaan pada Masa Islam di Spanyol
            Masjid semenjak zaman Nabi mempunyai fungsi gand, yakni sebagai tempat ibadah dan tempat kegiatan sosial kemasyarakatan. Salah satu fungsi masjid dalam bidang sosial kemasyarakatan adalah sebagai tempat pendidikan dan pengajaran. Di zaman kemajuan pendidikan Islam, masjid-masjid berkembang dengan pesatnya. Seperti di Iskandariyah yang berdiri kurang lebih 12.000 masjid dan di Damaskus yang berdiri 500 masjid. Masjid-masjid tersebut seperti telah diuraikan di atas berfungsi sebagai peninjang pendidikan disamping sebagai fungsi ibadah. Materi pelajaran yang diajarkan di masjid tidak hanya terbatas kepada ilmuilmu maqliyah saja, tetapi juga mencakup ilmu-ilmu aqliyah. Shalabi menuturkan bahwasanya selain memberikan pengajaran ilmu agama sebagai pelajaran utama, tapi di masjid juga mengajarkan ilmu pengetahuan selain dari pengetahuan agama.[7]
            Pada masa Islam di Spanyol sendiri, masjid yang kala itu sangat menunjang adanya proses pendidikan adalah Masjid Cordova yang didirikan oleh Abdurrahman Ad-Dakhil. Di masjid ini menurut keterangan al-Maqqari, duduk seorang ahli bahasa untuk mengajarkan tata bahasa Arab kepada sekelompok besar murid-murid. Pada masa itu juga telah ada masjid yang dilengkapi dengan tempat tinggal (asrama/khan). Tempat ini berfungsi sebagai asrama bagi pelajar yang adatang dari luar kota. Didalam masjid terdapat tempat pendidikan anak-anak, tempat pengajian yang berbentuk halaqah, tempat untuk berdiskusi, serta didalam masjid terdapat pula perpustakaan.[8]
            Menurut Maulana Shibli Nomani, pendidikan di Spanyol baik tingkat dasar maupun menengah, pada umumnya diberikan di masjid-masjid. Masjid menjadi basis sentral dalam pengembangan ilmu pengetahuan, baik pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan umum. Di sanalah para pelajar bertemu dengan para gurunya (ulama) dan kemudian melakuan dialog, diskusi, dan perdebatan-perdebatan akademis.
            Salah satu fasilitas pendukung lainnya untuk proses pendidikan pada masa ini selain masjid  adalah perpustakaan. Untuk itulah khalifah Abdurrahman III (912-961 M) membangun perpustakaan di kota Granada hingga mencapai 600.000 jilid buku.[9] Upaya yang sama juga dilakukan oleh khalifah Al-Hakam II (961-976 M) yang membangun lebih dari 70 perpustakaan sekaligus membangun perpustakaan terbesar (Greatest Library) diseluruh eropa pada masa itu. Ia juga mempunyai sebuah perpustakaan dengan khasanah 400.000 buku yang didaftar dalam 44 katalog tebal, yang secara hati-hati diseleksi oleh para penyalur buku yang ahli dari semua pasar buku iklan. Perpustakaannya dipimpin oleh sejumlah staf yang cukup banyak, terdiri dari para pustakawan, penyalin, dan penjilid dalam Scriptorium.[10]
            Ambisi untuk mendirikan perpustakaan juga telah dimiliki oleh masyarakat spanyol islam. Mereka mengoleksi berbagai buku untuk diwakafkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Seperti perpustakaan yang dibangun oleh Abul Mutrif, Seorang hakim dari Cordova, yang kebanyakan berisi buku-buku langka masterpieces-masterpieces kaligrafi, ia juga mempekerjakan enam orang karyawan untuk menyalin buku-buku tersebut sehingga dapat disebarluaskan pada masyarakat umum. Perpustakaan ini telah terjual dalam suatu lelang terbuka setelah ia wafat pada tahun 1011 seharga 40.000 dinar.
            Besarnya perhatian umat islam di Spanyol dalam penyediaan sarana perpustakaan dapat dilihat dengan berdirinya perpustakaan Khazanatul Humits-Tsani di Andalusia. Perpustakaan ini memiliki buku sebanyak 400.000 jilid. Disamping perpustakaan-perpustakaan lain yang didirikan oleh perorangan untuk dimanfaatkan secara umum bahkan mereka berlomba-lamba untuk mendirikannya. Para wanita pun tidak ketinggalan, mereka berlomba-lomba untuk mengumpulkan buku-buku demikian pula para budak. Kondidi ini ikut mendukung bagi pengembangan ilmu pengetahuan dispanyol sehingga dengan sekejab telah menyulap wilayah Spanyol dari negara yang kaya raya makmur dan maju disamping kemerdekaan ilmiah yang dikembangkan. Ilmu pengetahuan bukan hanya milik orang merdeka, tetapi juga merupakan milik para budak.[11]
E.       Gerakan Penerjemahan dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan di Spanyol
            Persepsi orang Barat mulai terbuka dengan melihat kenyataan bahwa apa yang dipropagandakan gereja bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Karena hal itu, orang Barat mulai membina hubungan dengan umat Islam di Andalusia, Sicilia, Syiria, dan lain sebagainya. Dengan adanya hubungan inilah maka terciptalah suatu kondisi yang memberikan kontribusi luar biasa terhadap kemajuan Eropa pada masa sesudahnya.
1.      Usaha Penerjemahan Bukubuku Ilmu Pengetahuan Islam
      Bangsa Arab dan Islam telah memberikan saham bagi kebangkitan Eropa. Sostem pembelajaran pada sekolah, Perguruan Tinggi, para ulama, dan bukubuku menjadi penggerak kebangkitan Barat.[12] Para penuntut ilmu dari Barat berupaya untuk mentransfer ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia Islam ke dunia Eropa, dengan jalan menerjemahkan sejumlah buku-buku karya ilmuwan-ilmuwan muslim.
      Sebelum periode pnerjemahan besar-besaran pada abad ke-12, sebenarnya sudah ada usaha-usaha untuk memajukan ilmu pengetahuan di Eropa Barat. Buktinya sudah ada beberapa usaha penerjemahan bahasa latin pada abad kesembilan. Di antara sarjana yang pertama mempelajari ilmu pengetahuan Arab adalah Gerbert de Aurilac, yang menjadi Paus Sylvester II. Sebelum usianya yang ke-20, ia sudah menghabiskan tiga tahun umurnyadi Catalonia. Biara Catalonia di Ripolli mempunyai perpustakaan yang cukup baik, yang juga mengoleksi karya-karya terjemahan dan karya-karya berbahasa Arab dalam lapangan ilmu pengetahuan.[13]
      Pada abad ke XII dimulailah penerjemahan besar-besaran ilmu pengetahuan Islam. Minat untuk menerjemahkan karya-karya Islam tersebut meluas dan dilakukan semua golongan masyarakat. Mulai dari ilmuwan, pendeta maupun para bangsawan dan raja-raja. Kota Toledo di Spanyol merupakan pusat penerjemahan. Toledo menjadi tempat transisi ilmu-ilmu keislaman ke Eropa. Di sana diterjemahkan banyak sekali karya ulama muslim baik yang berasal dari Timur maupun Barat.
2.      Bidang Sastra
      Dalam bidang sastra seperti prosa, fabel, cerita rakyat dan apolog, mulai menyebar ke Eropa pada abad ke-13 M, yang penampilannya jelas memiliki kemiripan dengan karya-karya Arab. Hal ini senada dengan diterjemahkannya “Kalilah wa Dimnah” ke dalam bahasa Spanyol untuk Alfonso (1252-1284) dan Castile dari Leon. Kontribusi yang paling berarti dari bangsa Aran untuk kesusastraan Eropa abad pertengahan adalah pengaruh yang ia berikan melalui bentuknya yang membantu membebaskan imajinasi orang Barat dari kebuntuan. Puisi-puisi Arab memberikan kontribusi [enting bagi munculnya skema sastra yang tegas tentang cinta Platonis dalam bahasa Spanyol.
3.      Bidang Astronomi
      Kajian-kajian astronomi di Spanyol mencapai puncaknya setelah pertengahan abad ke -10 dan berkembang pesat melalui kontribusi dari penguasa Cordova, Seville, dan Toledo. Para ahli astronomi Spanyol pada umumnya mempercayai pengaruh bintang sebagai sebab terjadinya berbagai peristiwa penting antara kelahiran dan kematian manusia di dunia ini. Selain itu dalam mengembangkan pemikiran astronominya mereka memakai kerangka karya-karya astronomi dan astrologi yang di tulis oleh ahli astronomi Muslim Timur. Para ahli astronomi paling awal dari Muslim Spanyol adalah al-Majriti (w.1007) darai Cordova, al-Zarqali (1029-1087M) dari Toledo dan Ibn Aflah (w. antara 1140-1150M).
4.      Bidang Matematika
      Penyebaran bilangan Arab di masyarakat Eropa pertama kali dilakukan oleh Paus Silvester II pada tahun 999 – 1003 M. Pada 1202 M Leonardo Fibonacci dari Pisa, yang belajar pada seorang guru muslim, menerbitkan buku yang menjadi rujukan utama tentang angka-angka Arab. Angka nol (yang ditemukan oleh ilmuwan muslim) dan angka Arab berada di belakang ilmu perhitungan. Philips K. Hitti menyebutkan dalam bukunya yang berjudul History of The Arabs, bahwasanya bilangan nol merupakan kebutuhan yang niscaya.
5.      Bidang Kedokteran
      Buku-buku karangan ilmuwan muslim mengenai kedokteran amat penting untuk Eropa. Bahkan bukunya Ar-Razi(Rhazes) yang membahas tentang penyakit cacar dan campak, telah dicetak dan diterjemahkan sebanyak empat puluh kali ke dalam bahasa Latin, Inggris, dan bahasa – bahasa Eropa dan lain-lain antara tahun 1498 – 1866 M. Kemudian ada juga bukunya Al-Hawi yang terdiri lebih dari 20 jilid yang menjadi buku rujukan kedokteran terpenting di Eropa. Demikian juga buku Al-Qanun fi Ath-Thibb karya Ibnu Sina telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, berpuluh kali cetak dan tetap dipakai di Eropa sampai pertengahan kedua abad XVII.[14] Kemudian di masa selanjutnya ada Abu Al-Qasim Az-Zahrawi yang terkenal sebagai ahli bedah juga menulis sebuah buku yang sangat berpengaruh tentang bedah pada zamannya yang berjudul At-Tashrif Liman ‘Ajaz ‘an At-Ta’alif.
6.      Bidang Filsafat
      Dalam lapangan filsafat, Sulaiman Ibn Jabral adalah filosof Arab Spanyol pertama. Abu Bakar Muhammad bin Yahya bin Bajjah merupakan filosof terbesar abad ke-12, ia juga aktif sebagai komentator Aristoteles. Karya filsafatnya “Tadbir Al-Mutawahhid” kemudian dikembangkan oleh Ibnu Thufail dengan karyanya yang agung “Hayy Ibn Yaqzhan” yang memadukan antara filsafat Aristoteles dan Platonis di satu pihak dan antara pemikiran Al-Ghazali dan Ibn Bajjah di pihak lain. Dan tokoh lain yang paling berpengaruh di Eropa adalah Ibnu Rusyd. Karyanya yang terkenal di bidang filsafat adalah Tahafut Tahafut Al-Falasifah. Karya ini merupakan jawaban atas buku Al-Ghazali “Tahafut-Al-Falasifah”.[15] Pengaruh Ibnu Rusyd amat besar di Eropa pada masa itu, sehingga muncul aliran Averroisme. Karya-karya Ibnu Rusyd menjadi rujukan utama di Universitas Paris dan lembaga-lembaga pendidikan tinggi lainnya.
      Dari bukti sejarah tersebut dapat dikatakan bahwasanya sumber peradaban Eropa sebenarnay adalah metode eksperimental bangsa Arab. Selanjutnya menurut Nakosteen, kontribusi kreatif para cendikiawan muslim di dunia Barat bukan saja dalam aspek pendidikan dan sains, akan terapi hampir pada semua aspek kehidupan dan bidang keilmuwan. Dari sinilah lahir beberapa lembaga pendidikan Eropa, seperti Universitas Salerno (spesialis Kedokteran), Bologna (spesialis hukum) di Itali, Universitas Paris dan Montpellier di Perancis, dan Universitas Cambridge (1209 M).
     
























BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Dengan demikian, Cordoba menjadi pusat belajar terbesar di Eropa pada saat seluruh bagian lain dari benua itu masih berada dalam kebodohan. Dalam masa kejayaaannya Cordoba pastilah satu dari keajaiban dunia. Islam telah mewarnai gelapnya Eropadengan beragam kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Yang akhirnya membuat Spanyol menjadi negara yang sangat maju dan modern hingga saat ini. Jika waktu diputar dan Islam tidak singgah di Spanyol, mungkin bisa dibayangkan Eropa tidaklah maju seperti sekarang. Banyak sekali hal yang diambil oleh orang Eropa dari Islam, terutama adalah bidang pendidikan. Para pembesar Islam yang pada kala itu sangat mencintai ilmu, telah membuat Spanyol menjadi pusat ilmu pengetahuan mengalahkan Baghdad dan Al-Azhar. Dengan adanya fasilitas yang sangat memadai seperti perpustakaan, masjid, perguruan tinggi, dan lain sebagainya telah mendukung adanya perkembangan pendidikan di Spanyol.



[1] Muhammad Hambal Shafwan, Intisari  Sejarah Pendidikan Islam, cet. ke-1(Sukoharjo: Pustaka Arafah, 2014), hlm. 171
[2] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, cet. ke-2(Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 170.
[3] Abudin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, cet. ke-2(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 263.
[4] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, cet. ke-3(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), hlm. 88.
[5] Ibid., hlm. 89.
[6] Ibid., hlm. 80
[7] Haidar Putra Daulay,  Pendidikan Islam dalam Lintasan Sjarah, cet. ke-1(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), hlm. 89
[8] Ibid., hlm. 91
[9]Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, cet. ke-3(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), hlm. 85.
[10] Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, cet. ke-1(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005), hlm. 114.
[11] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, cet. ke-3(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), hlm. 86.
[12] Muhammad Hambal Shafwan, Intisari  Sejarah Pendidikan Islam, cet. ke-1(Sukoharjo: Pustaka Arafah, 2014), hlm.183.
[13] Ibid., hlm. 184.
[14] Ibid., hlm. 188.
[15] Ibid., hlm. 189.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar