BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Sejak pertama kali Islam
menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di
sana, Islam memainkan peran yang sangat besar. Masa itu berlangsung sekitar
tujuh setengah abad (711-1429 M).
Perjalanan panjang Eropa sampai pada masa Renassance tidak dapat dipisahkan
dari peran Islam saat menguasai Spanyol. Ketika Islam mencapai masa
keemasannya, kota Kordoba dan Granada di Spanyol merupaka pusat-pusat peradaban
Islam yang sangat penting kala itu menyaingi Baghdad. Orang-orang Kristen,
Yahudi maupun Katolik kala itu berlomba-lomba belajar di perguruan-perguruan
tinggi Islam di sana. Islam menjadi guru bagi orang Eropa.
Kegemilangan pendidikan yang
diperkenalkan dunia Islam di Spanyol dari abad VI sampai X telah menyadarkan
Barat akan ketertinggalannya selama ini. Kedatangan Islam di Spanyol telah
membawa perubahan yang sangat besar, terutama di bidang sosial dan ilmu
pengetahuan serta kebudayaan. Perkembangan peradaban Spanyol Islam terbentuk
bukan hanya karena sentuhan dari tradisi Arab-Islam, akan tetapi lebih dari itu
karena akibat persentuhan peradaban yang di bawa oleh Arab-Islam dengan
kebudayaan masyarakat. Semua ini tidak terlepas dari kepiawaian dan dukungan
dari penguasa dalam memajukan ilmu pengetahuan dan tingginya motivasi umat
Islam dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Sehingga dalam waktu
singkat Spanyol berubah menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam di
belahan barat.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
pengaruh Islam di Spanyol ?
2.
Bagaimana
perkembangan pendidikan Islam di Spanyol ?
3.
Bagaimana
pertumbuhan lembaga pendidikan Islam di Spanyol ?
4.
Bagaimana
eksistensi masjid dan perpustakaan pada masa Islam di Spanyol ?
5.
Gerakan
penerjemahan dan pengembangan ilmu pengetahuan di Spanyol ?
C.
Metode
Pemecahan Masalah
Metode pemecahan
masalah yang dilakukan melalui studi literatur atau metode kajian pustaka,
yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya
yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan
masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan
perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan
tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumberdan
penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.
D.
Sistematika
Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis
dalam tiga bagian, meliputi: Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar
belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah dan sistematika
penulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III bagian penutup yang
terdiri dari kesimpulan dan saran-saran.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengaruh
Islam di Spanyol
Spanyol diduduki umat Islam pada
zaman Khalifah Al-Walid (705-715), salah seorang khalifah dari dinasti Umayyah II
yang berpusat di Damaskus. Ada tiga nama yang berjasa dalam penaklukan Spanyol,
mereka diantaranya Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad, dan Musa bin Nusair. Dari
ketiga nama tersebut, Thariq bin Ziyad lah yang paling dikenal karena berhasil
menaklukan kota-kota penting Spanyol seperti: Cordova, Granada, dan Toledo.
Yang berhasil ditaklukan pada tahun 93 H (711M) dibawah pimpinan Tariq bin
Ziyad bersama 7000 tentara kemudian ditambah 5000 tentara.
Islam memainkan peranan yang besar
baik dalam bidang kemajuan untelektual (fikih, sains, filsafat, musik, dan
kesenian, bahasa dan sastra), kemegahan bangunan fisik (Cordoba dan Granada).
Sejarah panjang yang dilalui umat Islam Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam
periode, yaitu:
1.
Periode
Pertama (711-755 M)
Pada periode ini stabilitas politik
Spanyol belum tercapai secara sempurna gangguan masih terjadi baik yang datang
dari luar maupun dari dalam. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan
diantara elit penguasa. Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di
Spanyol, gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500
tahun akhirnya mereka mampu diusir dari bumi Spanyol.
2.
Periode
Kedua (755- 912 M)
Pada periode ini umat Islam Spanyol mulai
memperoleh kemajuan baik dalam bidang politik maupun bidang peradaban. Pada
periode ini di pimpin oleh Abdurrahman Ad-Dakhil yang mendirikan Masjid Cordova
dan sekolah -sekolah di kota besar Spanyol kemudian ada juga penguasa lainnya
yaitu Hisyam I yang di kenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam dan ada juga
Hakam I yang dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran.[1]
3.
Periode
Ketiga (912-1013 M)
Pada periode ini berlangsung ketika
Abdurrahman An-Nasir memimpin. beliau mendirikan Universitas Cordova.
Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan buku. Pada masa ini masyarakat dapat
menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat.
4.
Periode
Keempat (1013-1086 M)
Pada periode ini Spanyol terpecah menjadi
lebih dari 30 negara kecil yang berpusat di suatu kota seperti Seville,
Cordova, Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya Abbadiyah di
Seville. Pada periode ini umat Islam kembali memasuki masa pertikaian intern.
Ironisnya bila terjadi perang saudara ada diantara pihak yang bertikai itu yang
meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Karena hal tersebut, orang-orang Kristen
mulai mengambil inisiatif penyerangan.
5.
Periode
Kelima (1086-1248 M)
Pada periode ini terdapat satu kekuatan yang
dominan yaitu kekuasaan dinasti Murabithun (1086-1143 M) dan dinasti Muwahhidun
(1146-1235 M). Dinasti Murabithun yang mulanya adalah sebuah gerakan agama yang
didirikan oleh Yusuf bin Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil
mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Dan akhirnya dapat
memasuki Spanyol dan menguasainya. Dalam perkembangan selanjutnya, pada periode
ini kekuasaan Islam Spanyol dipimpin oleh penguasa-penguasa yang lemah sehingga
mengakibatkan beberapa wilayah Islam dapat dikuasai oleh kaum Kristen. Pada
tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Sevilla jatuh pada
tahun 1248 M. Hampir seluruh wilayah Spanyol Islam lepas dari tangan penguasa
Islam.[2]
6.
Periode
Keenam (1248-1492 M)
Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di
daerah Granada dibawah Dinasti Ahmar. Peradaban kembali mengalami kemajuan
seperti dizaman Abdurrahman An-Nasir. Namun secara politik, dinasti ini hanya
berkuasa di wilayah kecil. Pada periode ini adalah akhir dari eksistensi umat
Islam di Spanyol.[3]
Menurut Prof. Harun Nasution sekitar tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada
lagi umat Islam di daerah ini.(Harun Nasution, 1985: 62).
B.
Perkembangan
Pendidikan Islam di Spanyol
Perkembangan pendidikan Islam di
Spanyol tidak terlepas dari berbagai faktor yang melatarbelakanginya. Baik itu
faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal dalam hal ini adalah
faktor ajaran Islam sebagai motivasi, nilai, dan doktrin, yang terakumulasi
dalam Qur’an (lihat diantaranya QS. 13:11, 6:38, 36:36) dan Al-Hadits (lihat
hadits-hadits tentang keutamaan menuntut dan mentransfer ilmu), merupakan
pendorong utama dalam memajukan pendidikan Spanyol Islam.[4]
Sedangkan faktor eksternal,
merupakan faktor yang berhubungan dengan upaya kaum muslimin Spanyol dalam
menciptakan kultur Islam dalam bentuk peradaban. Faktor tersebut diantaranya.
1.
Faktor
kekuasaan. Faktor ini berbentuk kebijaksanaan penguasa Umayah II dan penguasa
kecil lainnya. Mereka memberikan dukungan sangat kuat dalam pengembangan
pendidikan Spanyol Islam yang meliputi sumbangan dana dan fasilitas fisik demi
menunjang pengembangan pendidikan. Tidak hanya itu, mereka juga memberikan
sumbangan moril dengan menempatkan para ilmuwan pada posisi yang tinggi atau
sikap positif penguasa dalam pengembangan pendidikan: tingginya minat dalam
menuntut ilmu atau dalam mengumpulkan buku-buku bagi kepentingan umat.
2.
Faktor
akademis. Faktor ini mencakup munculnya lembaga pendidikan di Spanyol yang
memiliki saham yang sukup besar dalam menstimuli kaum muslimin untuk
mengembangkan pendidikan dan mengadakan riset. Islam mampu menjadikan dirinya
sebagai agent of social change, bukan sebagai lembaga yang mempolitisir
pendidikan untuk kepentingan golongan tertentu belaka.
3.
Faktor
kompetisi positif yang ditujukan umat Islam dalam upaya pengembangan ilmu
pengetahuan dan kebudayaan. Dimensi ini memberikan nuansa, bahwa ketika mereka
berlomba-lomba mengembangan ilmu pengetahuan, akan tetapi mereka masih menjaga
kode etik dan harmonisasi hubungan pentransferan ilmu pengetahuan. Hal ini
ditujukan kepada hubungan rival antara Abbasiyah (Baghdad) dan Umayyah II
(Spanyol).[5]
4.
Faktor
toleransi antar Islam dan non Islam. Mereka saling berlomba untuk dapat
menguasai ilmu pengetahuan. Kondisi kondusif ini memperkaya khazanah ilmu
pengetahuan di Spanyol. Spanyol pada masa Islam tidak mendeskriditkan
(melemahkan kewibawaan) umat non-Islam
C.
Pertumbuhan
Lembaga Pendidikan Islam di Spanyol
1.
Kuttab
Pada tempat pendidikan Kuttab ini para
siswa mempelajari beberapa bidang studi dan pelajaran-pelajaran yang meliputi
fiqih, bahasa&sastra, serta musik dan kesenian.
a.
Fiqih
Dalam bidang fiqih, karena Spanyol
menganut madzab Maliki, maka para ulama memperkenalkan materi-materi fiqih dari
madzab Maliki. Para ulama yang memperkenalkan mazhab ini antara lain Ziyad ibn
Abd Al-Rahman, Abu Bakr ibn Al-Quthiyah, Munzir ibn Said Al-Baluthi dan Ibn
Hazm.
b.
Bahasa
dan Sastra
Karena bahasa Arab telah menjadi
bahasa resmi dan bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol, maka
Bahasa Arab ini diajarkan baik kepada anak-anak Islam maupun non-Islam. Mereka
juga banyak yang mahir dalam bahasa Arab, sehingga mereka terampil dalam
berbicara dan tata bahasa. Mereka antara lain ialah Ibnu Malik, Ibn Sayyidih,
Ibn Khuruf, Ibn Al-Hajj, Abu Ali Al-Isybili, Abu Al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu
Hayyan Al-Garnathi.
c.
Musik
dan kesenian
Sya’ir merupakan ekspersi utama dari
perdaban Spanyol. Pada dasarnya sya’ir Spanyol didasarkan pada model-model
sya’ir Arab. Dalam bidang musik dan seni, Spanyol Islam memiliki tokoh yang
sangat terkenal, yaitu Al-Hasan ibn Nafi (Ziryab).
2.
Madrasah
Menurut keterangan Mahmud Yunus, dalam
bukunya Dr. Muhammad Hambal Shafwan, bahwa ketika umat Islam berkuasa di
Andalus (Spanyol) mereka telah mendirikan madrasah yang tidak sedikit jumlahnya
guna menopang pengembangan pendidikannya. Madrasah-madrasah itu tersebar di
seluruh daerah kekuasaan Islam, antara lain : Qurthubah (Cordova),
Isybilah(Sevile), Thulaithilah(Toledo), Gharnathan(Granada) dan lain
sebagainya.
3.
Perguruan
Tinggi
Guna melakukan sosialisasi ilmu
pengetahuan lebih lanjut, khalifah Abdul Rahman III mencoba merintisnya dengan
mendirikan Universitas Cordova sebagai pusat ilmu pengetahuan. Universitas ini
mengambil di sebuah masjid. Pada masa pemerintahan Al-Hakam II (961-976 M),
universitas tersebut diperluas lokasinya dan bahkan mendatangkan para profesor
dari Timur(Al-Azhar dan Nizamiyah) sebagai dosen undangan untuk memberikan
perkuliahan di sana.[6] Ia
juga menyediakan berbagai fasilitas untuk menunjang kelancaran proses
pendidikan, terutama bagi tenaga guru yang didatangkan dengan menyediakan berbagai
hadiah untuk gaji atau honorer mereka.
D.
Eksistensi
Masjid dan Perpustakaan pada Masa Islam di Spanyol
Masjid semenjak zaman Nabi mempunyai
fungsi gand, yakni sebagai tempat ibadah dan tempat kegiatan sosial
kemasyarakatan. Salah satu fungsi masjid dalam bidang sosial kemasyarakatan
adalah sebagai tempat pendidikan dan pengajaran. Di zaman kemajuan pendidikan
Islam, masjid-masjid berkembang dengan pesatnya. Seperti di Iskandariyah yang
berdiri kurang lebih 12.000 masjid dan di Damaskus yang berdiri 500 masjid.
Masjid-masjid tersebut seperti telah diuraikan di atas berfungsi sebagai
peninjang pendidikan disamping sebagai fungsi ibadah. Materi pelajaran yang
diajarkan di masjid tidak hanya terbatas kepada ilmuilmu maqliyah saja, tetapi
juga mencakup ilmu-ilmu aqliyah. Shalabi menuturkan bahwasanya selain
memberikan pengajaran ilmu agama sebagai pelajaran utama, tapi di masjid juga
mengajarkan ilmu pengetahuan selain dari pengetahuan agama.[7]
Pada masa Islam di Spanyol sendiri,
masjid yang kala itu sangat menunjang adanya proses pendidikan adalah Masjid
Cordova yang didirikan oleh Abdurrahman Ad-Dakhil. Di masjid ini menurut
keterangan al-Maqqari, duduk seorang ahli bahasa untuk mengajarkan tata bahasa
Arab kepada sekelompok besar murid-murid. Pada masa itu juga telah ada masjid
yang dilengkapi dengan tempat tinggal (asrama/khan). Tempat ini berfungsi
sebagai asrama bagi pelajar yang adatang dari luar kota. Didalam masjid
terdapat tempat pendidikan anak-anak, tempat pengajian yang berbentuk halaqah,
tempat untuk berdiskusi, serta didalam masjid terdapat pula perpustakaan.[8]
Menurut Maulana Shibli Nomani,
pendidikan di Spanyol baik tingkat dasar maupun menengah, pada umumnya
diberikan di masjid-masjid. Masjid menjadi basis sentral dalam pengembangan
ilmu pengetahuan, baik pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan umum. Di
sanalah para pelajar bertemu dengan para gurunya (ulama) dan kemudian melakuan
dialog, diskusi, dan perdebatan-perdebatan akademis.
Salah satu fasilitas pendukung lainnya
untuk proses pendidikan pada masa ini selain masjid adalah perpustakaan. Untuk itulah khalifah
Abdurrahman III (912-961 M) membangun perpustakaan di kota Granada hingga
mencapai 600.000 jilid buku.[9]
Upaya yang sama juga dilakukan oleh khalifah Al-Hakam II (961-976 M) yang
membangun lebih dari 70 perpustakaan sekaligus membangun perpustakaan terbesar
(Greatest Library) diseluruh eropa pada masa itu. Ia juga mempunyai sebuah
perpustakaan dengan khasanah 400.000 buku yang didaftar dalam 44 katalog tebal,
yang secara hati-hati diseleksi oleh para penyalur buku yang ahli dari semua
pasar buku iklan. Perpustakaannya dipimpin oleh sejumlah staf yang cukup banyak,
terdiri dari para pustakawan, penyalin, dan penjilid dalam Scriptorium.[10]
Ambisi untuk mendirikan perpustakaan
juga telah dimiliki oleh masyarakat spanyol islam. Mereka mengoleksi berbagai
buku untuk diwakafkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Seperti
perpustakaan yang dibangun oleh Abul Mutrif, Seorang hakim dari Cordova, yang kebanyakan
berisi buku-buku langka masterpieces-masterpieces kaligrafi, ia juga
mempekerjakan enam orang karyawan untuk menyalin buku-buku tersebut sehingga
dapat disebarluaskan pada masyarakat umum. Perpustakaan ini telah terjual dalam
suatu lelang terbuka setelah ia wafat pada tahun 1011 seharga 40.000 dinar.
Besarnya perhatian umat islam di Spanyol
dalam penyediaan sarana perpustakaan dapat dilihat dengan berdirinya
perpustakaan Khazanatul Humits-Tsani di Andalusia. Perpustakaan ini memiliki
buku sebanyak 400.000 jilid. Disamping perpustakaan-perpustakaan lain yang
didirikan oleh perorangan untuk dimanfaatkan secara umum bahkan mereka
berlomba-lamba untuk mendirikannya. Para wanita pun tidak ketinggalan, mereka
berlomba-lomba untuk mengumpulkan buku-buku demikian pula para budak. Kondidi
ini ikut mendukung bagi pengembangan ilmu pengetahuan dispanyol sehingga dengan
sekejab telah menyulap wilayah Spanyol dari negara yang kaya raya makmur dan
maju disamping kemerdekaan ilmiah yang dikembangkan. Ilmu pengetahuan bukan
hanya milik orang merdeka, tetapi juga merupakan milik para budak.[11]
E.
Gerakan
Penerjemahan dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan di Spanyol
Persepsi orang Barat mulai terbuka
dengan melihat kenyataan bahwa apa yang dipropagandakan gereja bertentangan
dengan ilmu pengetahuan. Karena hal itu, orang Barat mulai membina hubungan
dengan umat Islam di Andalusia, Sicilia, Syiria, dan lain sebagainya. Dengan
adanya hubungan inilah maka terciptalah suatu kondisi yang memberikan
kontribusi luar biasa terhadap kemajuan Eropa pada masa sesudahnya.
1.
Usaha
Penerjemahan Bukubuku Ilmu Pengetahuan Islam
Bangsa Arab dan Islam telah memberikan
saham bagi kebangkitan Eropa. Sostem pembelajaran pada sekolah, Perguruan
Tinggi, para ulama, dan bukubuku menjadi penggerak kebangkitan Barat.[12]
Para penuntut ilmu dari Barat berupaya untuk mentransfer ilmu pengetahuan yang
berkembang di dunia Islam ke dunia Eropa, dengan jalan menerjemahkan sejumlah
buku-buku karya ilmuwan-ilmuwan muslim.
Sebelum periode pnerjemahan besar-besaran
pada abad ke-12, sebenarnya sudah ada usaha-usaha untuk memajukan ilmu
pengetahuan di Eropa Barat. Buktinya sudah ada beberapa usaha penerjemahan
bahasa latin pada abad kesembilan. Di antara sarjana yang pertama mempelajari
ilmu pengetahuan Arab adalah Gerbert de Aurilac, yang menjadi Paus Sylvester
II. Sebelum usianya yang ke-20, ia sudah menghabiskan tiga tahun umurnyadi
Catalonia. Biara Catalonia di Ripolli mempunyai perpustakaan yang cukup baik,
yang juga mengoleksi karya-karya terjemahan dan karya-karya berbahasa Arab
dalam lapangan ilmu pengetahuan.[13]
Pada abad ke XII dimulailah penerjemahan
besar-besaran ilmu pengetahuan Islam. Minat untuk menerjemahkan karya-karya
Islam tersebut meluas dan dilakukan semua golongan masyarakat. Mulai dari
ilmuwan, pendeta maupun para bangsawan dan raja-raja. Kota Toledo di Spanyol
merupakan pusat penerjemahan. Toledo menjadi tempat transisi ilmu-ilmu
keislaman ke Eropa. Di sana diterjemahkan banyak sekali karya ulama muslim baik
yang berasal dari Timur maupun Barat.
2.
Bidang
Sastra
Dalam bidang sastra seperti prosa, fabel,
cerita rakyat dan apolog, mulai menyebar ke Eropa pada abad ke-13 M, yang
penampilannya jelas memiliki kemiripan dengan karya-karya Arab. Hal ini senada
dengan diterjemahkannya “Kalilah wa Dimnah” ke dalam bahasa Spanyol untuk
Alfonso (1252-1284) dan Castile dari Leon. Kontribusi yang paling berarti dari
bangsa Aran untuk kesusastraan Eropa abad pertengahan adalah pengaruh yang ia
berikan melalui bentuknya yang membantu membebaskan imajinasi orang Barat dari
kebuntuan. Puisi-puisi Arab memberikan kontribusi [enting bagi munculnya skema
sastra yang tegas tentang cinta Platonis dalam bahasa Spanyol.
3.
Bidang
Astronomi
Kajian-kajian astronomi di Spanyol
mencapai puncaknya setelah pertengahan abad ke -10 dan berkembang pesat melalui
kontribusi dari penguasa Cordova, Seville, dan Toledo. Para ahli astronomi
Spanyol pada umumnya mempercayai pengaruh bintang sebagai sebab terjadinya
berbagai peristiwa penting antara kelahiran dan kematian manusia di dunia ini. Selain
itu dalam mengembangkan pemikiran astronominya mereka memakai kerangka
karya-karya astronomi dan astrologi yang di tulis oleh ahli astronomi Muslim
Timur. Para ahli astronomi paling awal dari Muslim Spanyol adalah al-Majriti
(w.1007) darai Cordova, al-Zarqali (1029-1087M) dari Toledo dan Ibn Aflah (w.
antara 1140-1150M).
4.
Bidang
Matematika
Penyebaran bilangan Arab di masyarakat
Eropa pertama kali dilakukan oleh Paus Silvester II pada tahun 999 – 1003 M.
Pada 1202 M Leonardo Fibonacci dari Pisa, yang belajar pada seorang guru
muslim, menerbitkan buku yang menjadi rujukan utama tentang angka-angka Arab.
Angka nol (yang ditemukan oleh ilmuwan muslim) dan angka Arab berada di
belakang ilmu perhitungan. Philips K. Hitti menyebutkan dalam bukunya yang
berjudul History of The Arabs, bahwasanya bilangan nol merupakan kebutuhan
yang niscaya.
5.
Bidang
Kedokteran
Buku-buku karangan ilmuwan muslim mengenai
kedokteran amat penting untuk Eropa. Bahkan bukunya Ar-Razi(Rhazes) yang
membahas tentang penyakit cacar dan campak, telah dicetak dan diterjemahkan
sebanyak empat puluh kali ke dalam bahasa Latin, Inggris, dan bahasa – bahasa
Eropa dan lain-lain antara tahun 1498 – 1866 M. Kemudian ada juga bukunya Al-Hawi
yang terdiri lebih dari 20 jilid yang menjadi buku rujukan kedokteran
terpenting di Eropa. Demikian juga buku Al-Qanun fi Ath-Thibb karya Ibnu
Sina telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, berpuluh kali cetak dan tetap
dipakai di Eropa sampai pertengahan kedua abad XVII.[14]
Kemudian di masa selanjutnya ada Abu Al-Qasim Az-Zahrawi yang terkenal sebagai
ahli bedah juga menulis sebuah buku yang sangat berpengaruh tentang bedah pada
zamannya yang berjudul At-Tashrif Liman ‘Ajaz ‘an At-Ta’alif.
6.
Bidang
Filsafat
Dalam lapangan filsafat, Sulaiman Ibn
Jabral adalah filosof Arab Spanyol pertama. Abu Bakar Muhammad bin Yahya bin
Bajjah merupakan filosof terbesar abad ke-12, ia juga aktif sebagai komentator
Aristoteles. Karya filsafatnya “Tadbir Al-Mutawahhid” kemudian dikembangkan
oleh Ibnu Thufail dengan karyanya yang agung “Hayy Ibn Yaqzhan” yang memadukan
antara filsafat Aristoteles dan Platonis di satu pihak dan antara pemikiran
Al-Ghazali dan Ibn Bajjah di pihak lain. Dan tokoh lain yang paling berpengaruh
di Eropa adalah Ibnu Rusyd. Karyanya yang terkenal di bidang filsafat adalah Tahafut
Tahafut Al-Falasifah. Karya ini merupakan jawaban atas buku Al-Ghazali
“Tahafut-Al-Falasifah”.[15]
Pengaruh Ibnu Rusyd amat besar di Eropa pada masa itu, sehingga muncul aliran
Averroisme. Karya-karya Ibnu Rusyd menjadi rujukan utama di Universitas Paris
dan lembaga-lembaga pendidikan tinggi lainnya.
Dari bukti sejarah tersebut dapat
dikatakan bahwasanya sumber peradaban Eropa sebenarnay adalah metode
eksperimental bangsa Arab. Selanjutnya menurut Nakosteen, kontribusi kreatif
para cendikiawan muslim di dunia Barat bukan saja dalam aspek pendidikan dan
sains, akan terapi hampir pada semua aspek kehidupan dan bidang keilmuwan. Dari
sinilah lahir beberapa lembaga pendidikan Eropa, seperti Universitas Salerno
(spesialis Kedokteran), Bologna (spesialis hukum) di Itali, Universitas Paris
dan Montpellier di Perancis, dan Universitas Cambridge (1209 M).
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Dengan demikian, Cordoba
menjadi pusat belajar terbesar di Eropa pada saat seluruh bagian lain dari
benua itu masih berada dalam kebodohan. Dalam masa kejayaaannya Cordoba
pastilah satu dari keajaiban dunia. Islam telah mewarnai gelapnya Eropadengan
beragam kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Yang akhirnya membuat Spanyol menjadi
negara yang sangat maju dan modern hingga saat ini. Jika waktu diputar dan
Islam tidak singgah di Spanyol, mungkin bisa dibayangkan Eropa tidaklah maju
seperti sekarang. Banyak sekali hal yang diambil oleh orang Eropa dari Islam,
terutama adalah bidang pendidikan. Para pembesar Islam yang pada kala itu
sangat mencintai ilmu, telah membuat Spanyol menjadi pusat ilmu pengetahuan
mengalahkan Baghdad dan Al-Azhar. Dengan adanya fasilitas yang sangat memadai
seperti perpustakaan, masjid, perguruan tinggi, dan lain sebagainya telah
mendukung adanya perkembangan pendidikan di Spanyol.
[1] Muhammad Hambal
Shafwan, Intisari Sejarah
Pendidikan Islam, cet. ke-1(Sukoharjo: Pustaka Arafah, 2014), hlm. 171
[2] Samsul Munir
Amin, Sejarah Peradaban Islam, cet. ke-2(Jakarta: AMZAH, 2010), hlm. 170.
[3] Abudin Nata, Sejarah
Pendidikan Islam, cet. ke-2(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 263.
[4] Samsul Nizar, Sejarah
Pendidikan Islam, cet. ke-3(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009),
hlm. 88.
[7] Haidar Putra
Daulay, Pendidikan Islam dalam
Lintasan Sjarah, cet. ke-1(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013),
hlm. 89
[9]Samsul Nizar, Sejarah
Pendidikan Islam, cet. ke-3(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009),
hlm. 85.
[10] Suwito, Sejarah
Sosial Pendidikan Islam, cet. ke-1(Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2005), hlm. 114.
[11] Samsul Nizar, Sejarah
Pendidikan Islam, cet. ke-3(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009),
hlm. 86.
[12] Muhammad Hambal
Shafwan, Intisari Sejarah Pendidikan
Islam, cet. ke-1(Sukoharjo: Pustaka Arafah, 2014), hlm.183.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar